Sering Lupa Nama Orang? Ini Penjelasan Psikologinya
- freepik.com/wayhomestudio
Jakarta, VIVA – Pernahkah kamu bertemu seseorang yang jelas-jelas pernah dikenalkan sebelumnya, wajahnya terasa familiar, tetapi namanya sama sekali tidak muncul di ingatan? Situasi ini sering terjadi dan kadang terasa memalukan. Banyak orang langsung menyimpulkan dirinya punya ingatan buruk. Padahal, menurut psikologi, lupa nama orang adalah fenomena yang sangat umum dan tidak selalu berarti daya ingat kita lemah.
Ilmu psikologi telah lama meneliti kebiasaan lupa nama ini dan menemukan bahwa ada berbagai faktor yang memengaruhinya. Mulai dari cara otak menyimpan informasi, tingkat fokus saat berkenalan, hingga kondisi emosional. Melansir dari laman Global English Editing, berikut beberapa penjelasan ilmiah yang membantu kita memahami kenapa hal ini sering terjadi.
1. Gagal Menyimpan Informasi
Saat pertama kali berkenalan, biasanya banyak hal terjadi bersamaan, seperti berjabat tangan, memperhatikan penampilan lawan bicara, mendengar suara sekitar, hingga memikirkan apa yang akan kita katakan selanjutnya. Dalam kondisi seperti itu, nama sering kali tidak tersimpan dengan baik di memori jangka panjang.
Fenomena ini disebut encoding failure, yaitu ketika otak tidak berhasil “menyimpan” informasi sejak awal. Jadi sebenarnya bukan lupa, melainkan memang belum benar-benar tersimpan. Inilah alasan kenapa kadang kita lupa nama bahkan beberapa detik setelah mendengarnya.
2. Perhatian Terbagi
Lupa nama juga sering terjadi ketika kita tidak fokus penuh saat diperkenalkan. Misalnya di acara pesta, seminar, atau rapat besar, pikiran kita bisa terpecah antara banyak hal, suara bising, makanan, notifikasi ponsel, atau rasa gugup.
Otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk multitasking berat. Ketika perhatian terbagi, informasi yang masuk tidak diproses secara optimal, termasuk nama orang. Akibatnya, nama tersebut mudah sekali hilang dari ingatan.
3. Baker/Baker Paradox
Ada fenomena unik dalam psikologi bernama Baker/Baker Paradox. Kita biasanya lebih mudah mengingat pekerjaan seseorang dibanding namanya. Misalnya, kita lebih mudah mengingat bahwa seseorang adalah “tukang roti” daripada namanya “Baker”.
Hal ini terjadi karena pekerjaan memicu banyak asosiasi di otak, roti, oven, toko kue, sementara nama hanyalah label tanpa gambaran visual kuat. Karena kurangnya hubungan makna, nama menjadi lebih sulit diingat.