Anak-anak Paling Rentan Terpapar, Kenali Gejala Awal hingga Fase Kritis DBD

Ilustrasi nyamuk demam berdarah
Sumber :
  • Freepik

Jakarta, VIVA – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan serius di Indonesia. Setiap tahun, kasus DBD terus bermunculan dan kerap meningkat hingga memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai daerah. 

img_title Beroperasi 24 Jam, Pertamina Buka Posko Medis Gratis di Reok NTT

Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menjadi beban sistem pelayanan kesehatan jika tidak ditangani secara tepat dan cepat. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kementerian Kesehatan RI, pada 2025 tercatat sekitar 131 ribu kasus DBD di Indonesia. Provinsi Jawa Barat, bersama Jawa Timur, Bali, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. 

img_title Pria 40-an Sering Lelah dan Sulit Fokus? Jangan Cuma Salahkan Usia, Ini Masalah yang Mengintai

Anak usia di bawah 1 tahun atau 5–10 tahun menjadi kelompok paling rentan karena berisiko mengalami komplikasi yang lebih berat. Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan dan penanganan DBD.

Rentannya anak-anak terhadap serangan DBD merupakan isu kesehatan yang memerlukan perhatian serius kita semua. 

img_title Program Cek Kesehatan Gratis Disebut PSI Bisa Perkuat Pencegahan Penyakit

Menurut dr. Miza Dito Afrizal, Sp.A, sistem imunitas yang masih berkembang serta tingginya aktivitas di luar rumah meningkatkan frekuensi gigitan nyamuk pada anak. 

Hal ini membuat mereka lebih berisiko terpapar virus dengue. Ia juga mengingatkan bahwa gejala demam akibat flu dan DBD sering kali mirip, sehingga orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan.

“Demam biasa karena flu sering disertai gejala pernapasan seperti batuk dan pilek, suhu biasanya tidak setinggi DBD, dan umumnya akan membaik dalam beberapa hari, sementara DBD ditandai demam tinggi mendadak (bisa 40°C), nyeri hebat (kepala, belakang mata, otot/sendi), tanpa gejala flu, bisa muncul bintik merah dan mimisan/gusi berdarah,” ujar dr, Miza.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dr. Miza menegaskan pentingnya kejujuran orang tua dalam menyampaikan riwayat demam anak. Ia menekankan agar orang tua tidak mengira-ngira waktu awal demam, karena durasinya sangat menentukan diagnosis. 

“Pada demam berdarah, tanda penghancuran sel darah umumnya baru muncul setelah 72 jam. Oleh karena itu, sebelum periode tersebut, kadar trombosit bisa saja masih normal sehingga diagnosis belum dapat dipastikan,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut