Terapi CAPD Jadi Harapan Baru Pasien Gagal Ginjal
- times of india
Sebagai perbandingan, klaim BPJS untuk hemodialisis melalui skema INA-CBG berkisar Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi, tergantung kelas rumah sakit dan wilayahnya.
Meski telah dijamin dalam sistem kesehatan nasional, pemanfaatan CAPD masih rendah. Pemerintah menargetkan minimal 10 persen pasien dialisis menggunakan CAPD sebagai bagian dari transformasi layanan rujukan untuk mengurangi ketergantungan pada mesin HD dan meningkatkan efisiensi sistem kesehatan.
Tony menyatakan, di sejumlah negara pasien sudah diberikan edukasi mengenai pilihan modalitas terapi bahkan sebelum menjalani dialisis. Di Malaysia, misalnya, pasien dijelaskan secara rinci mengenai pilihan hemodialisis (HD) maupun peritoneal dialysis (PD), sehingga dapat menentukan terapi yang paling sesuai. Sementara di Indonesia, edukasi serupa belum umum.
Setelah kondisi pasien stabil setelah beberapa kali menjalani hemodialisis (HD), pilihan untuk mempertimbangkan CAPD sebagai terapi lanjutan sering kali tidak lagi disampaikan. Akibatnya, banyak pasien terus menjalani HD karena itulah satu-satunya terapi yang mereka ketahui.
“Kami sering mendengar kalimat yang sama dari pasien ‘Kenapa tidak dari dulu saya tahu CAPD?’. Banyak pasien baru mengenal terapi ini justru dari komunitas pasien, bukan dari sistem layanan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai pilihan terapi gagal ginjal belum disampaikan secara utuh sejak awal kepada pasien,” ucapnya.
Tony berharap edukasi mengenai pilihan terapi dialisis menjadi bagian dari standar pelayanan pasien gagal ginjal, sehingga setiap pasien memahami opsi terapi yang tersedia sebelum memutuskan menjalani dialisis jangka panjang.
Momentum World Kidney Day 2026 dengan tema “Kidney Health for All: Caring for
People, Protecting the Planet” dinilai menjadi waktu yang tepat untuk mendorong deteksi dini, edukasi komprehensif mengenai pilihan terapi, serta pemerataan akses layanan. Semangat “Protecting the Planet” juga menekankan pentingnya keberlanjutan dalam layanan kesehatan. Penguatan layanan berbasis rumah (home-based care) dan efisiensi kunjungan dinilai dapat mengurangi beban mobilitas pasien dan pendamping serta mengurangi antrean di fasilitas kesehatan.