Benarkah Hantavirus Menular dari Manusia ke Manusia?
- Freepik/pikisuperstar
Jakarta, VIVA – Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan penyebaran penyakit tersebut di sejumlah negara. Banyak orang mulai khawatir karena virus ini disebut memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi dan gejalanya bisa berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius.Â
Tidak sedikit pula yang bertanya apakah hantavirus dapat menular dari manusia ke manusia seperti flu atau COVID-19. Kekhawatiran tersebut memang wajar. Apalagi, hantavirus dikenal sebagai penyakit zoonosis yang berasal dari hewan pengerat, terutama tikus liar.Â
Virus tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Meski begitu, fakta mengenai penularan antarmanusia ternyata tidak sesederhana yang beredar di media sosial.
Melansir dari situs CDC, berikut fakta penting soal hantavirus yang perlu Anda ketahui.
1. Mayoritas hantavirus tidak menular antarmanusia
Sebagian besar jenis hantavirus diketahui tidak mudah menyebar dari manusia ke manusia. Penularan utamanya justru berasal dari paparan hewan pengerat yang membawa virus tersebut.
Seseorang bisa terinfeksi ketika menghirup partikel virus dari debu yang tercampur urine atau kotoran tikus. Selain itu, penularan juga dapat terjadi saat menyentuh benda terkontaminasi lalu memegang hidung atau mulut tanpa mencuci tangan.
Karena itu, kasus hantavirus lebih sering ditemukan pada orang yang tinggal atau bekerja di area dengan populasi tikus tinggi, seperti gudang, peternakan, perkebunan, hingga area hutan.
2. Ada jenis hantavirus yang bisa menular antar manusia
Meski sebagian besar tidak menular antarmanusia, ada satu strain yang menjadi pengecualian, yakni Andes virus. Jenis ini ditemukan di wilayah Amerika Selatan dan pernah dikaitkan dengan penularan antar manusia melalui kontak erat.
Penularan biasanya terjadi pada anggota keluarga, pasangan, atau orang yang memiliki kontak intens dalam waktu lama dengan pasien terinfeksi. Namun, para ahli menilai kasus seperti ini tergolong jarang.
Hingga kini, penularan Andes virus belum menunjukkan pola penyebaran masif seperti virus pernapasan lainnya. Karena itu, risiko wabah besar akibat penularan antarmanusia masih dinilai rendah.