Pakar ITB: Galon Polikarbonat yang Terdegradasi Tidak Kembali Membentuk BPA

Galon Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)
Sumber :
  • [Istimewa]

VIVA –  Pakar Polimer Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) Hafis Pratama Rendra Graha, meluruskan informasi yang beredar mengenai bahaya Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang berbahan polikarbonat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di laboratorium, ia menyatakan proses degradasi pada material tersebut tidak membentuk kembali monomer awal berupa BPA maupun phosgene.

img_title Teka-teki Dentuman Misterius di Bandung Pasca Erupsi Anak Krakatau, Pakar ITB Sebut Fenomena 'Acoustic Shadow Zone'

Penjelasan tersebut disampaikan Hafis menyusul maraknya misinformasi mengenai keamanan galon guna ulang berbahan polikarbonat yang banyak digunakan sebagai kemasan air minum.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Hafis, tim peneliti sengaja merusak material polikarbonat menggunakan paparan sinar ultraviolet (UV) untuk mengetahui senyawa yang terbentuk setelah proses degradasi.

img_title Riset Ungkap Galon Guna Ulang Tak Terkait Risiko Kanker dan Gangguan Hormon, Simak Faktanya

"Penelitian yang kami lakukan di laboratorium polimer menunjukkan, galon guna ulang yang terdegradasi itu menghasilkan potongan-potongan senyawa kimia kecil secara acak, dan sama sekali tidak terbentuk lagi monomer awalnya yaitu BPA dan Phosgene," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa 21 Juli 2026.

Ia menjelaskan, hasil penelitian menunjukkan fragmen yang terbentuk memiliki beragam bentuk senyawa kimia. Namun, tidak ditemukan fragmen yang kembali menjadi monomer awal penyusun polikarbonat.

img_title BPA Kejagung Bentuk Satgas Khusus Lacak Aset Koruptor Kasus Lama

"Nah, setelah kami teliti fragment yang ada dari hasil degradasi itu macam-macam bentuknya. Tapi, kami tidak menemukan satupun dari fragment itu yang kembali lagi jadi monomer awalnya berupa BPA dan Phosgene," katanya.

Hafis menambahkan, secara kimia hampir semua jenis plastik memiliki karakteristik serupa ketika mengalami degradasi. Ia mencontohkan proses pirolisis pada sampah plastik berbahan polypropylene yang tidak menghasilkan kembali gas propylene sebagai bahan baku awalnya.

Menurutnya, proses tersebut justru menghasilkan minyak pirolisis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, bukan kembali menjadi senyawa penyusun awal plastik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Hafis menegaskan kadar BPA yang dapat bermigrasi ke dalam air dari galon polikarbonat juga sangat rendah. Ia mengatakan aspek tersebut telah diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui pengujian sebelum produk memperoleh izin edar.

"Jadi, kalau secara proses pembuatan resin plastik galon itu jelek, tentunya akan banyak BPA yang terperangkap di material kemasannya karena banyak yang nggak bereaksi dengan bagus. Tapi, kan BPOM tidak mungkin mengeluarkan izin edar kalau itu terjadi," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut