8 Hal yang Dulu Diizinkan ke Anak Era 70-80an, Ternyata Bikin Mereka Lebih Tangguh
- Freepik
VIVA – Anak-anak yang tumbuh pada era 1970-an dan 1980-an mungkin memiliki masa kecil yang jauh berbeda dibandingkan generasi sekarang. Saat itu, orang tua cenderung memberikan ruang lebih luas bagi anak untuk mencoba berbagai hal sendiri, menghadapi masalah, bahkan melakukan kesalahan.
Menurut American Psychological Association, resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan baik ketika menghadapi pengalaman sulit atau penuh tantangan. Menariknya, sejumlah kebiasaan masa kecil yang dulu dianggap biasa ternyata dapat membantu seseorang mengembangkan kemampuan tersebut.
Meski tidak semua pola asuh zaman dulu cocok diterapkan saat ini, ada beberapa hal yang bisa menjadi pelajaran. Berikut delapan kebiasaan anak era 70-80an yang dinilai membantu mereka menjadi lebih mandiri dan tangguh, melansir dari YourTango.Â
1. Belajar mandiri sejak lebih muda
Dulu, tinggal bersama orang tua setelah lulus sekolah atau kuliah sering kali bukan pilihan utama. Banyak anak diharapkan segera mencari pekerjaan, menyewa tempat tinggal, dan mengurus kebutuhan mereka sendiri.
Hidup mandiri membuat seseorang belajar mengatur keuangan, pekerjaan rumah, waktu, hingga kebutuhan emosional. Mereka juga terbiasa menghadapi kesendirian dan menyelesaikan persoalan tanpa selalu bergantung pada orang lain.
Saat ini, kondisi ekonomi dan harga hunian membuat banyak anak muda kesulitan meninggalkan rumah orang tua. Akibatnya, kesempatan untuk belajar mandiri secara langsung juga bisa datang lebih lambat.
2. Pergi tanpa terus dipantau orang tua
Anak-anak era 70-80an tidak memiliki aplikasi pelacak lokasi seperti sekarang. Ketika pergi bermain bersama teman, mereka tidak harus terus-menerus mengirimkan lokasi atau memberi kabar setiap beberapa menit.
Tentu, keamanan tetap menjadi perhatian. Namun, ruang tersebut membuat anak belajar mengambil keputusan sendiri, mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah, dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
3. Dibiarkan merasa bosan
Bosan ternyata tidak selalu buruk bagi anak. Tanpa smartphone, media sosial, atau layanan streaming, anak-anak zaman dulu harus mencari cara sendiri untuk mengisi waktu.
Mereka bisa bermain di luar rumah, membaca, menggambar, membuat permainan sendiri, atau sekadar berkhayal. Kondisi tersebut mendorong kreativitas sekaligus melatih kemampuan untuk merasa nyaman tanpa hiburan instan.