Kucing Mengejan tapi Urine Tak Keluar? Waspada FLUTD, Bisa Mengancam Nyawa
- Freepik
Jakarta, VIVA – Pemilik kucing perlu waspada ketika hewan peliharaannya mengalami perubahan kebiasaan buang air kecil. Kucing yang bolak-balik ke kotak pasir, mengejan terlalu lama, atau hanya mengeluarkan sedikit urine bisa mengalami gangguan saluran kemih yang membutuhkan pemeriksaan dokter hewan.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD), istilah untuk kelompok gangguan yang menyerang saluran kemih bagian bawah kucing. Kondisi ini dapat berkaitan dengan peradangan kandung kemih, batu saluran kemih, hingga sumbatan pada uretra.
Tanda paling berbahaya adalah ketika kucing terus berusaha buang air kecil, tetapi urine tidak keluar atau hanya menetes. Kondisi tersebut dapat menandakan sumbatan saluran kemih, terutama pada kucing jantan, dan berpotensi mengancam nyawa.
Kucing dengan gejala tersebut harus segera dibawa ke dokter hewan atau klinik hewan yang menyediakan layanan darurat. Jangan menunggu hingga keesokan hari atau berharap kondisinya membaik sendiri. Sumbatan saluran kemih dapat menyebabkan penumpukan zat sisa dalam tubuh dan gangguan serius, bahkan kematian, jika tidak segera ditangani.
Selain urine tidak keluar, ada sejumlah tanda lain yang perlu diperhatikan pemilik kucing, antara lain:
- Bolak-balik ke kotak pasir, tetapi urine yang keluar hanya sedikit.
- Mengejan atau terlihat kesakitan ketika mencoba buang air kecil.
- Ada darah dalam urine, sehingga warna urine tampak merah muda atau kemerahan.
- Sering menjilati area kelamin atau terlihat gelisah dan tidak nyaman.
- Buang air kecil di luar kotak pasir, padahal sebelumnya terbiasa menggunakan tempat tersebut.
- Nafsu makan menurun, muntah, lemas, atau bersembunyi, terutama jika disertai gangguan buang air kecil.
Apabila kucing mengejan tetapi urine tidak keluar, segera cari pertolongan dokter hewan meskipun kucing masih terlihat aktif. Sementara itu, jika muncul darah dalam urine atau perubahan pola berkemih, pemeriksaan dokter hewan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.
Pemilik juga tidak disarankan menekan perut atau mencoba mengeluarkan urine secara manual. Jangan memberikan obat manusia maupun obat sisa tanpa petunjuk dokter hewan karena dapat membahayakan kucing dan menunda penanganan yang tepat.