Riset Ungkap Alasan Mengapa Banyak Orang Yahudi Sukses dan Kaya Raya
- Getty Images
Jakarta, VIVA – Pendidikan, kebiasaan membaca, hingga kemampuan membangun jaringan sosial kerap disebut sebagai faktor yang memengaruhi keberhasilan seseorang. Sejumlah penelitian tentang komunitas Yahudi di Amerika Serikat dan Eropa juga menyoroti faktor-faktor tersebut dalam menjelaskan pencapaian sebagian orang Yahudi di bidang akademik, ilmu pengetahuan, dan ekonomi.
Salah satu nama yang sering dikaitkan dengan pencapaian intelektual tersebut adalah Albert Einstein. Fisikawan kelahiran Jerman yang berasal dari keluarga Yahudi itu meraih Nobel Fisika pada 1921 berkat penjelasannya mengenai efek fotolistrik.
Catatan sejarah juga menunjukkan keterwakilan orang Yahudi yang menonjol di sejumlah bidang ilmu pengetahuan. Namun, pencapaian tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah, lingkungan sosial, kesempatan memperoleh pendidikan, dan kondisi ekonomi yang berbeda-beda.
Riset Paul Burstein berjudul Jewish Educational and Economic Success in the United States (2007), misalnya, membahas pencapaian pendidikan dan ekonomi orang Yahudi di Amerika Serikat. Kajian semacam ini mendorong pertanyaan lebih jauh: faktor apa yang membantu sebagian komunitas Yahudi membangun tradisi akademik dan profesional yang kuat?
Pendidikan dan Tradisi Literasi Jadi Perhatian
Dalam penelitian Richard Lynn dan Satoshi Kanazawa berjudul How to explain high Jewish achievement (2008), penulis membahas sejumlah hipotesis untuk menjelaskan tingginya pencapaian sebagian orang Yahudi. Salah satu pembahasan yang mereka angkat berkaitan dengan kemampuan kognitif, sementara faktor lainnya menyangkut nilai budaya dan lingkungan sosial.
Pandangan mengenai keunggulan intelektual orang Yahudi sebenarnya telah muncul jauh sebelum penelitian modern berkembang. Dalam tulisan Jewish Contribution to Civilization (1919), Jacobs menggambarkan keberhasilan orang Yahudi Jerman di Eropa dengan pernyataan, "Yahudi Jerman berada di puncak kesuksesan Eropa".
Penilaian tersebut berangkat dari pengamatan terhadap pencapaian sosial dan ekonomi pada masa itu. Namun, pengamatan historis tidak sama dengan pengukuran ilmiah mengenai kecerdasan. Hasil tes IQ pun tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh anggota suatu kelompok etnis memiliki tingkat kecerdasan yang sama.
Karena itu, pencapaian akademik dan profesional perlu dipahami melalui berbagai faktor, bukan semata-mata berdasarkan dugaan mengenai kemampuan bawaan.