Ada Langkah Penting agar Karya Lokal Makin Mendunia
- REUTERS/Fred Prouser
Jakarta, VIVA – Karya lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk dikenal dan dicintai masyarakat dunia. Berbekal kekayaan budaya, cerita khas Nusantara, karakter unik, serta kreativitas generasi muda, karya Indonesia dapat berkembang menjadi film, serial, animasi, gim, musik, hingga berbagai produk kreatif yang menembus pasar internasional.
Namun, kreativitas saja belum cukup. Karya lokal membutuhkan pengembangan yang terarah, perlindungan kekayaan intelektual, talenta yang kompeten, serta strategi distribusi dan pemasaran agar mampu bersaing di pasar global.
Kementerian Ekonomi Kreatif, dikutip VIVA Sabtu (24/10/2026), menegaskan pentingnya memperkuat kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) lokal agar memiliki kualitas, daya saing, dan akses pasar internasional. Hal tersebut disampaikan dalam agenda IPXpose pada Agustus 2025.
1. Mengembangkan cerita lokal menjadi karya yang relevan
Indonesia memiliki banyak sumber inspirasi, mulai dari legenda daerah, cerita rakyat, sejarah, tradisi, hingga kehidupan masyarakat modern. Kekayaan tersebut dapat menjadi fondasi untuk menciptakan cerita yang menarik bagi penonton dari berbagai negara.
Kuncinya adalah mengolah cerita dengan pendekatan kreatif tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi ciri khasnya. Kisah tentang keluarga, persahabatan, perjuangan, keberanian, dan pencarian jati diri, misalnya, dapat dipahami oleh penonton lintas budaya.
Cerita lokal juga tidak harus selalu berlatar masa lampau. Pengalaman generasi muda, kehidupan perkotaan, persoalan lingkungan, serta dinamika masyarakat Indonesia dapat menjadi materi film dan serial yang dekat dengan kehidupan masa kini.
2. Memperkuat karakter dan kekayaan intelektual
Langkah berikutnya adalah membangun karakter dan dunia cerita yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang. Sebuah karakter yang kuat tidak hanya menarik dalam satu film, tetapi juga berpotensi hadir dalam serial, animasi, gim, buku, mainan, atau produk kreatif lainnya.
Karena itu, kreator perlu memikirkan identitas karakter, latar cerita, ciri visual, serta nilai yang ingin disampaikan sejak awal pengembangan.
Kekayaan intelektual juga perlu dilindungi secara hukum. Kementerian Ekonomi Kreatif menempatkan perlindungan KI sebagai bagian penting dari upaya membawa karya lokal ke pasar internasional.
Menurut Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO), perlindungan hak atas kekayaan intelektual perlu diperhatikan ketika pemilik karya memasuki pasar luar negeri. Hak atas merek, paten, dan desain industri memiliki cakupan wilayah tertentu sehingga strategi perlindungan perlu disesuaikan dengan negara tujuan.
3. Meningkatkan kualitas talenta dan produksi
Ide yang menarik perlu didukung kemampuan teknis dan profesional. Penulis skenario, ilustrator, animator, pengembang gim, sutradara, editor, hingga tenaga pemasaran memiliki peran penting dalam menghasilkan karya yang mampu bersaing.
Peningkatan keterampilan dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, lokakarya, kolaborasi lintas disiplin, dan pengalaman bekerja dalam proyek nyata. Kreator juga perlu mengikuti perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab untuk mendukung proses produksi.
Pada April 2026, Kementerian Ekonomi Kreatif menekankan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri untuk memperkuat talenta serta mempercepat pengembangan dan komersialisasi kekayaan intelektual.
Kolaborasi seperti ini penting agar kreator tidak hanya mampu menghasilkan ide, tetapi juga memahami proses produksi, kebutuhan audiens, dan model bisnis yang berkelanjutan.
4. Membuka akses ke pasar global
Karya yang berkualitas membutuhkan jalur distribusi yang tepat. Platform digital, festival film internasional, pameran industri kreatif, pasar gim, serta kerja sama dengan studio luar negeri dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan karya Indonesia kepada audiens baru.
Kreator perlu menyiapkan portofolio profesional, materi promosi berbahasa asing, serta informasi hak distribusi yang jelas. Penyesuaian bahasa melalui takarir atau sulih suara juga dapat membantu karya menjangkau penonton dari negara berbeda.
Selain itu, pertemuan bisnis atau business matching memungkinkan kreator bertemu calon mitra, penerbit, distributor, dan investor. Kementerian Ekonomi Kreatif menyebut kolaborasi dan perluasan jejaring industri sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kekayaan intelektual lokal.
Meski demikian, menembus pasar global bukan sekadar mengunggah konten ke internet. Kreator perlu memahami kebiasaan audiens, aturan distribusi, potensi pasar, serta kesepakatan kerja sama agar karya dapat berkembang secara berkelanjutan.
5. Membangun bisnis kreatif yang berkelanjutan
Karya yang mendunia juga perlu memberikan manfaat ekonomi kepada penciptanya. Karena itu, pelaku industri perlu merancang sumber pendapatan sejak awal, misalnya melalui lisensi, penjualan hak adaptasi, distribusi konten, penjualan produk turunan, atau kerja sama komersial.
Perjanjian dengan mitra harus menjelaskan kepemilikan hak cipta, pembagian pendapatan, wilayah pemasaran, dan jangka waktu pemanfaatan karya. Langkah tersebut membantu mengurangi risiko sengketa sekaligus menjaga hak kreator.
Dukungan pembiayaan dan pendampingan bisnis juga penting, terutama bagi studio kecil dan kreator independen yang memiliki ide potensial tetapi menghadapi keterbatasan modal serta jaringan industri.
Karya lokal membutuhkan strategi jangka panjang
Membawa karya Indonesia ke panggung dunia membutuhkan proses yang melibatkan banyak pihak. Kreator perlu menjaga keaslian cerita, meningkatkan kualitas produksi, melindungi kekayaan intelektual, dan memahami kebutuhan pasar internasional.
Pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, serta pelaku industri dapat memperkuat proses tersebut melalui pelatihan, pembiayaan, kolaborasi, dan akses distribusi.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengaku ikut menikmati hiburan tersebut. Ia berharap bawa dari layar ponselnya: karya anak Indonesia juga bisa dikenal dan dicintai penonton di berbagai belahan dunia.
“Potensinya besar, tinggal bagaimana kita memperkuat talenta, mengembangkan kekayaan intelektual, dan membuka akses ke pasar global,” kata Teuku Riefky.
Pada akhirnya, kekayaan budaya Indonesia merupakan modal awal yang berharga. Agar benar-benar mendunia, modal tersebut perlu diolah menjadi karya berkualitas yang memiliki identitas kuat, dikelola secara profesional, dan mampu membangun hubungan dengan penonton lintas negara.