Tiga Fenomena Langka pada 31 Januari 2018, Ada Bulan Merah

Gerhana Bulan Total di San Jose, California, Amerika Serikat.
Sumber :
  • NASA Ames Research Center/Brian Day

VIVA – Ternyata tidak hanya fenonema Gerhana Bulan Total yang bisa dinikmati pada Rabu, 31 Januari 2018 nanti. Dua fenomena lainnya, Blue Moon dan Supermoon, juga turut hadir di waktu yang sama.

img_title Niat dan Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Ini Waktu Melaksanakannya!

Supermoon adalah kondisi Bulan mendekat dengan Bumi dan membuatnya lebih jelas dilihat dari Bumi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kemudian, Blue Moon merupakan fenomena Bulan ada pada fase purnama keduanya dan jatuh pada bulan ini atau menjadi bulan ke-13.

img_title Durasi Gerhana Bulan Total 3 Maret di Indonesia: 5 Jam 41 Menit

Lalu, Gerhana Bulan Total yang terjadi saat fase Bulan sudah pada kategori sempurna alias purnama.

Nah, fenomena yang kini sangat disorot adalah Gerhana Bulan Total. Sebab, Bulan akan berubah warna menjadi merah. Kejadian inilah yang disebut Super Blue Blood Moon.

img_title Gerhana Bulan Total 3 Maret, Kemenag Ajak Umat Islam Salat Khusuf

Peneliti Astronomi Langit Selatan, Avivah Yamani mengatakan warna Bulan saat gerhana total bisa menjadi indikator keadaan atmosfer Bumi.

"Contohnya, saat Gunung Pinatubo di Filipina meletus dan menyemburkan debu ke angkasa. Itu menyebabkan Bulan jadi gelap saat gerhana total," kata dia kepada VIVA, Senin, 29 Januari 2018. 

Kemudian, Avibah melanjutkan, yang bisa diperhatikan ketika Gerhana Bulan Total adalah di mana temperatur di permukaan Bulan akan berubah drastis selama sebelum, saat, dan sesudah gerhana terjadi.

Karena, Bulan mengalami pergantian temperatur dari panas ke dingin secara berkala sesuai dengan sisi mana yang terkena panas sinar Matahari. "Ini seperti pergantian siang dan malam yang terjadi pada Bumi,” tutur dia.

Menurut  Avivah, ketika Bulan terkena cahaya matahari tentunya akan menyebabkan permukaan Bulan panas. Ketika Bulan masuk dalam bayangan bumi perlahan cahaya itu hilang karena dihalangi Bumi.

Alhasil, terjadi penurunan temperatur pada permukaan Bulan beberapa jam. Kejadian ini, ia menuturkan, juga bisa menjadi bahan penelitian di permukaan Bulan.

"Penelitiannya itu untuk melihat perubahan Bulan saat terjadi pendinginan. Dengan demikian mereka bisa mempelajari karakteristik campuran tanah yang menutupi permukaan Bulan," jelas Avivah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berikut rincian proses dari awal hingga akhir Super Blue Blood Moon seperti dikutip dari tulisan Avivah di situs Langit Selatan:

Waktu Indonesia Bagian Barat:

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut