Mengapa Orang Dahulu Takut Gerhana Bulan?

Ilustrasi gerhana bulan
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Zabur Karuru

VIVA – Gerhana Bulan Total terlama sepanjang abad ini akan segera datang pada 27 Juli 2018. Gerhana itu bisa dinikmati mulai 27 Juli sore setelah Matahari terbenam sampai 28 Juli saat fajar menyingsing. Khusus untuk Gerhana Bulan Total, baru akan terjadi tengah malam sampai dini hari. 

img_title Niat dan Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Ini Waktu Melaksanakannya!

Jika para pengamat berada di tempat yang tepat, maka mereka akan memandangi langit secara takjub. Pada masa modern, orang berbondong-bondong menyaksikan Gerhana Bulan.  

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi berbeda terjadi di masa lalu. Orang yang hidup pada zaman dahulu merespons fenomena alam itu dengan kepanikan. Gerhana Bulan dianggap sebagai tanda-tanda kiamat dan membawa kesialan.

img_title Durasi Gerhana Bulan Total 3 Maret di Indonesia: 5 Jam 41 Menit

Dikutip dari Space, Senin 23 Juli 2018, cerita rakyat menunjukkan penjelajah Christoper Columbus kala itu mengetahui Gerhana Bulan bakal terjadi pada 19 Februari 1504. Dia memanfaatkan Gerhana Bulan sebagai keberuntungan. 

Kala itu, Columbus bersama anak buahnya telah terperangkap di sebuah pulau, yang saat ini masuk wilayah Jamaika, selama enam bulan. Awalnya suku asli di pulau itu, Suku Arawak sangat murah hati kepada mereka. Namun seiring berjalannya waktu, kemurahan hati mereka menjadi memudar.

img_title Gerhana Bulan Total 3 Maret, Kemenag Ajak Umat Islam Salat Khusuf

Ketika rombonganya kelaparan, Columbus akhirnya memanfaatkan almanak yang diterbitkan astronom dan matematikawan asal Jerman, Johannes Muller von Konigsberg, yang juga dikenal nama populer Regiomontanus. Columbus memanfaatkan almanak itu sebagai ‘senjata’ mengibuli Suku Arawak. 

Almanak tersebut ternyata sangat berharga, karena tabel astronomis Regiomontanus itu menginformasikan rinci tentang Matahari, Bulan, dan planet, serta bintang dan rasi bintang yang lebih penting untuk dilayari. Alamanak tersebut mengetahui keberadaan Gerhana Bulan Total yang akan datang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengetahui informasi tersebut, Columbus memberi tahu Suku Arawak bahwa Tuhannya marah karena mereka menahan makanan kepada pendatang. Columbus mengatakan, kepada kepala Suku Arawak, Tuhannya akan memakan Bulan sehingga satelit alami Bumi itu akan lenyap atau 'murka' selama tiga hari.

Benar saja, hari berikutnya Gerhana Bulan Total atau blood moon muncul. Suku Arawak ketakutan dan panik. Pada akhirnya suku tersebut setuju untuk memberikan apa yang dibutuhkan Columbus dan anak buahnya. Namun mereka minta kepada Columbus agar meminta Tuhannya menormalkan kondisi Bulan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut