Apple dan Qualcomm Ribut Gara-gara Duit Royalti

Gedung Qualcomm.
Sumber :

VIVA – Dua raksasa teknologi Amerika Serikat, Apple dan Qualcomm, 'berperang' di Pengadilan Federal San Diego. Keduanya memperebutkan royalti, lantaran Apple tidak membayarnya ke Qualcomm.

img_title Prabowo ke Pengusaha Rusia: Datanglah ke Indonesia, Bangun Industri Bersama Kami

Dilansir dari Phone Arena, Senin, 29 Oktober 2018, Qualcomm mengklaim Apple berutang kepada mereka sebesar US$7 miliar atau sekitar Rp106 triliun untuk pembayaran royalti.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sedangkan, Apple menuduh desainer chipset itu gagal untuk membuat lisensi standar hak patennya dengan adil, wajar, serta tidak diskriminasi. Standar tersebut, menurut Apple, adalah sesuatu yang umum dalam industri.

img_title Meski Prospek Cerah, Industri Perjalanan Umrah dan Haji RI Dituntut Tingkatkan Kualitas Layanan

"Semuanya merupakan paten yang harus dijalan untuk memenuhi standar industri," demikian keterangan dari Apple. Bukan hanya itu, perusahaan yang dipimpin oleh Tim Cook ini juga membantah tuduhan Qualcomm bahwa mereka belum membayar royalti.

Mereka juga mengklaim bahwa royalti ditagih dua kali untuk paten yang sama. Apple mengatakan bahwa Qualcomm menagihnya karena menggunakan chip atau prosesor di dalam model iPhone beberapa tahun lalu.

img_title Mengapa Dimensity dengan CPU All Big Core Menarik untuk HP Flagship? Begini Cara Kerjanya di Balik Performa Tinggi

"Dan, kami lagi-lagi melalui royalti paten," jelas Apple. Akibat dari masalah ini, Apple dan Qualcomm masih berperang. Apple kemudian memakai prosesor milik Intel sebagai alasan untuk beralih dari chipset milik Qualcomm.

Wakil Ketua Fraksi Golkar DPR RI, Bambang Patijaya

Bambang Patijaya: Percepatan EBT Harus Tekan Beban Subsidi dan Bangun Industri Nasional

Bambang menilai percepatan energi baru dan terbarukan (EBT) perlu ditempatkan sebagai strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi, mengendalikan beban subsidi.

img_title
VIVA.co.id
3 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut