Beda Penanganan Banjir antara Surabaya dan Medan

Tim SAR gabungan mencari korban hilang akibat banjir bandang di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Rabu, 19 Desember 2018.
Sumber :
  • VIVA/Putra Nasution

VIVA – Memasuki musim penghujan, ancaman banjir kerap mengintai sejumlah daerah di Indonesia. Setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk melakukan mitigasi, seperti kota Surabaya, Jawa Timur dan Medan, Sumatera Utara.

img_title DEN Wanti-Wanti Prabowo soal El Nino dan La Nina, Ini Dampaknya bagi Pangan Indonesia

Kelompok Penelitian Ekologi Manusia-Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, telah melakukan penelitian selama empat tahun di kedua kota tersebut. Ancaman banjir dipengaruhi oleh perubahan lingkungan dan kegiatan ekonomi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu anggota peneliti yang juga menjabat sebagai Peneliti Muda Ekologi Manusia, Luh Kitty Katherina, mengatakan bahwa Surabaya dan Medan terletak di wilayah pesisir yang merupakan daerah hilir aliran sungai besar yang bisa menyebabkan risiko banjir.

img_title Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Aceh, Jalan Nasional hingga Lahan Pertanian Terdampak

"Ada perubahan lingkungan akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi disertai dengan pertumbuhan ekonomi. Berbagai upaya mitigasi telah dilakukan pemerintah kota tetapi belum menurunkan dampak yang ditimbulkan," kata Luh, saat acara temu media di Jakarta, Kamis, 27 Desember 2018.

Ia mengatakan, saat ini kota Pahlawan, julukan Surabaya, fokus pada pembangunan infrastruktur penanggulangan banjir, seperti perbaikan drainase, pembuatan tanggul, rumah pompa, dan waduk penyimpanan air.

img_title Upaya Kementerian PU Pulihkan Layanan Air Minum Pasca Banjir di Padang

"Penduduk di sana merasa terlindungi dengan apa yang dilakukan pemerintah. Mereka juga dilibatkan dalam upaya mitigasi bencana," paparnya.

Jika Surabaya dikatakan siap dari sisi pemerintah, kota Medan justru sebaliknya. Menurut Luh, penduduk di sana secara mandiri meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi banjir berdasarkan pengalaman bencana banjir selama bertahun-tahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sedangkan, pemerintahnya masih sangat terbatas dalam melakukan risiko pengurangan bencana. Pemerintah di kota Melayu Deli itu lebih fokus pada penanganan pascabencana.

"Gambaran kedua kota tersebut memberi kita pelajaran bahwa mitigasi bencana tetap harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat," jelas dia. (ali)

Warga melintasi ruas jalan terendam banjir di Aceh Selatan, Minggu (25/10/2026).

Banjir dan Longsor Terjang Aceh Selatan, 4 Desa Terendam, Jalan Nasional Terdampak

Banjir merendam empat gampong di Aceh Selatan akibat hujan lebat sejak 24 Oktober. Air mencapai sepaha orang dewasa, sementara longsor terjadi di dua titik jalan.

img_title
VIVA.co.id
25 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut