Isu Server KPU Di-setting Menyebar Paling Cepat dan Masif
- ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
VIVA – Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menelusuri dampak dari penyebaran isu “Server KPU di-setting untuk memenangkan kubu tertentu” di media sosial.
Mafindo menemukan penyebaran yang masif di media sosial sebanyak lebih dari 45 ribu kali dibagikan dan 974 ribu views hanya dalam satu hari.
Konten tersebut tersebar di semua platform populer seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Ini belum termasuk penyebaran di grup Whatsapp yang diduga angkanya bisa jauh lebih besar.
Hal ini menjadikan isu “Server KPU” tersebut adalah yang paling besar dan paling cepat penyebarannya di masyarakat Indonesia terkait isu penyelenggaraan Pemilu.
Penyebaran isu yang menurut Mafindo hoaks ini berpotensi merusak legitimasi penyelenggaraan Pemilu dan bisa berdampak fatal bagi masa depan demokrasi Indonesia. Langkah-langkah taktis dari pihak penyelenggara Pemilu maupun penegak hukum sangat dibutuhkan untuk meredam dampak penyebaran hoaks ini.
Dalam keterangan pers, Jumat April 2019, Ketua Presidium Mafindo Septiaji mengatakan bahwa hoaks yang berusaha mendelegitimasi penyelenggaraan Pemilu seperti ini tidaklah berdiri sendiri.
"Ia merupakan kelanjutan dari hoaks-hoaks sebelumnya seperti 'Tujuh Kontainer Surat Suara Tercoblos', 'Truk Surat Suara Beraksara China', dikombinasikan dengan persoalan faktual yang sebenarnya minor seperti sempat masuknya WNA (Warga Negara Asing) dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap)," kata Septiaji.
"Namun hoaks yang menyebut Server KPU ada di Singapura, dan sudah di-setting kemenangan 57 persen untuk salah satu kubu, penyebarannya paling masif dibanding hoaks-hoaks sebelumnya," tambahnya.
Kabar tersebut, terang Septiaji, mulai terdeteksi di media sosial sejak Rabu 3 April 2018 pukul 19:30 dan menyebar luas hingga menjangkau 974 ribu views hanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Masyarakat yang terpapar hoaks ini di group Whatsapp bisa mencapai jutaan.
Lebih jauh Septiaji mengungkapkan ada 19 akun yang paling banyak menyebarkan hoaks ini, 14 di antaranya bukan akun asli alias akun abal-abal, seperti Rahmi Zainudin Ilyas, Rara Putri Edelweis, Noor Inesya Zain, Alena Putri dan lain-lain.
Banyaknya masyarakat yang terperdaya oleh informasi dari akun abal-abal, menunjukkan literasi media yang rendah. Hal ini diperparah juga karena literasi kepemiluan yang tidak merata.