Golongan Darah Ini Disukai Corona
- U-Report
VIVA – Orang dengan golongan darah A lebih rentan terhadap infeksi Coronavirus baru, COVID-19. Sementara orang dengan golongan darah O lebih resisten. Hal ini berdasarkan studi pendahuluan terhadap pasien di China yang tertular Virus Corona.
Peneliti medis di China mengambil pola golongan darah dari sekitar 2.000 pasien yang terinfeksi virus di Wuhan dan Shenzhen, dan membandingkannya dengan populasi sehat setempat. Mereka menemukan bahwa pasien dengan golongan darah A menunjukkan tingkat infeksi yang lebih tinggi, dan gejala yang lebih parah.
Meski peneliti mengatakan studi ini masih terlalu dini, mereka mendesak pemerintah dan fasilitas medis untuk mempertimbangkan perbedaan golongan darah, ketika merencanakan langkah-langkah mitigasi atau merawat pasien COVID-19.
"Orang-orang dari golongan darah A mungkin perlu secara khusus memperkuat perlindungan diri untuk mengurangi kemungkinan infeksi," tulis para peneliti yang dipimpin oleh Wang Xinghuan dengan Centre for Evidence-Based and Translational Medicine di Zhongnan Hospital, Universitas Wuhan.
"Pasien yang terinfeksi, dengan golongan darah A mungkin perlu menerima pengawasan yang lebih waspada dan perawatan yang agresif," tulis Wang, dilansir dari The Star, Kamis, 19 Maret 2020.
Sebaliknya, menurut makalah yang diterbitkan di Medrixv.org pada 11 Maret lalu, menyebutkan golongan darah O memiliki risiko yang secara signifikan lebih rendah untuk penyakit menular dibandingkan dengan golongan darah non-O.
Dari 206 pasien yang meninggal akibat Covid-19 di Wuhan, 85 orang di antaranya memiliki tipe darah A, lebih banyak 63 persen daripada 52 orang dengan tipe darah O. Pola ini ada pada kelompok usia dan jenis kelamin yang berbeda.
"Mungkin bermanfaat untuk mengenal golongan darah pada pasien dan tenaga medis, sebagai bagian rutin dari manajemen penanganan Covid-19 dan infeksi coronavirus lainnya, untuk membantu menentukan opsi manajemen dan menilai tingkat paparan risiko pada seseorang," ungkap Wang.
Studi ini dilakukan oleh para ilmuwan dan dokter dari kota-kota di seluruh China termasuk Beijing, Wuhan, Shanghai dan Shenzhen. Laporan ini belum ditinjau oleh sejawat, dan penulis mengingatkan bahwa mungkin ada risiko yang terlibat dalam menggunakan penelitian untuk memandu praktik klinis saat ini.