Siap-siap, Bumi Diterpa Badai Matahari

Ilustrasi partikel energi badai matahari yang mengarah ke Bumi.
Sumber :
  • nasa.gov

VIVA – Lubang terbuka di atmosfer Matahari, memungkinkan keluarnya aliran angin. Peramal cuaca luar angkasa memperkirakan, angin tersebut akan menghantam Bumi, kedatangannya bersamaan dengan aurora di langit belahan utara.

img_title BMKG: Gempa Magnitudo 6,4 di Simalungun Tidak Berpotensi Tsunami

Dari situs Express, Selasa, 19 Mei 2020, saat ini partikel tersebut tengah menempuh perjalanan 150 juta kilometer untuk bisa sampai ke planet kita. Situs Space Weather mengatakan, aliran kecil angin Matahari diperkirakan menerpa medan magnet Bumi pada hari ini dan besok.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Baca juga: Daftar Hape Android Rp700 Ribuan: 4G, Fingerprint, Face Unlock?

img_title BNPB: Total Korban Jiwa Gempa Bumi M 7,7 Capai 47 Orang hingga Sabtu Malam

"Bahan gas mengalir dari lubang kecil atmosfer Matahari. Tidak tertibnya geomagnetik bisa memicu aurora kutub. Aurora di Utara disebut aurora borealis, sedangkan di Selatan adalah aurora australis, yang disebabkan partikel Matahari menghantam atmosfer Bumi," ujar Space Weather.

Ketika megnetosfer dibombardir oleh angin Matahari, cahaya biru yang menakjubkan bisa muncul. Tapi, fenomena ini juga memiliki konsekuensi di mana badai matahari dan cuaca antariksa bisa melebihi cahaya utara dan selatan.

img_title Laba BUMI Melonjak 188 Persen, Emiten Bakrie-Salim Raup Untung US$58,85 Juta pada Semester I-2026

Medan magnet Bumi memang bisa melindungi manusia dari radiasi yang asalnya dari bintik Matahari, namun badai ini ternyata bisa berpengaruh pada satelit, berpotensi mengurangi keakuratan GPS, sinyal ponsel dan TV satelit.

Arus tinggi juga bisa terjadi pada magnetosfer, bisa mengakibatkan trafo listrik, ledakan pembangkit listrik sampai pada pemadaman. Badai Matahari yang melumpuhkan teknologi pernah terjadi pada 1859 di seluruh Eropa, dikenal dengan peristiwa Carrington Event.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ada juga laporan mengenai beberapa bangunan terbakar akibat listrik. Sebuah studi mengungkapkan, fenomena ini seharusnya terjadi sekitar 25 tahun sekali dan sekarang sudah melewati periode tersebut.

"Badai super ini jarang terjadi tetapi, memperkirakan kedatangannya adalah bagian dari mitigasi yang diperlukan. Penelitian ini mengusulkan metode baru, guna mendapat gambaran tentang kemungkinan terjadinya badai super dan aktivitasnya di masa depan," ujar penulis utama studi, Sandra Chapman.

PGN.

Perluas Pasar Gas Bumi, PGN Beberkan Strategi Komersial Dongkrak Permintaan Berkelanjutan

Subholding Gas PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), terus memperkuat strategi komersial untuk memperluas pasar dan pemanfaatan gas bumi.

img_title
VIVA.co.id
14 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut