Pengamat Beberkan 2 Operator Seluler Indonesia yang Dibidik Malaysia

Menara BTS milik XL Axiata.
Sumber :
  • Dok.XL

VIVA – Mau Dicomot Malaysia, operator seluler Indonesia dinilai sedang megap-megap. Hal ini diungkapkan oleh pengamat telekomunikasi Nonot Harsono.

img_title Gempa NTT M 7,7 bikin Ratusan BTS Lumpuh: Daerah Ini Paling Terdampak

Seperti diketahui, Axiata Group, raksasa telekomunikasi asal Malaysia yang juga induk usaha operator telekomunikasi XL, dikabarkan sedang melakukan pembicaraan untuk membeli salah satu operator seluler di Tanah Air.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aksi korporasi ini bagian dari efisiensi sekaligus upaya melakukan konsolidasi industri telekomunikasi. "Selain Grup Telkom termasuk Telkomsel, semua operator telekomunikasi di Indonesia lagi megap-megap. Tapi, XL Axiata tahun lalu dan sekarang profitnya agak cerah," kata dia kepada VIVA, Selasa, 26 Mei 2020.

img_title MK Kabulkan Sebagian Gugatan Kuota Internet Hangus, Operator Wajib Sediakan Opsi agar Sisa Kuota Tetap Bisa Dipakai

Namun Nonot mengaku belum bisa memastikan operator telekomunikasi mana yang akan dicaplok BUMN Malaysia itu. Ia menyebut tergantung dari tujuan perusahaan pada sektor manakah mereka ingin bertarung. Saat ini kondisi yang paling berat dialami oleh PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT). Beberapa waktu lalu saja mereka melakukan pengurangan karyawan.

Nonot berpandangan bahwa Indosat belum menemukan format atau strategis bisnis baru yang bisa membuatnya bangkit. "Jika Axiata hanya ingin memperkuat bisnis Internet of Things (IoT), terlalu mahal untuk mengakuisisi Indosat. Tapi, kalau orientasinya 5G maka Indosat secara teknis bisa mendukung aksi korporasi tersebut," jelasnya.

img_title Taktik Telkomsel Satukan 'Bersih-bersih' Massal dengan Bisnis Hijau

Kemudian, jika tujuan Axiata hanya ingin menambah fitur jaringan di spektrum frekuensi untuk IoT, kemungkinan yang dilirik adalah PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (NET1).

Sementara untuk PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) tidak masuk dalam potensi akuisisi, karena mereka memiliki kendala teknis menuju jaringan 5G. Nonot menambahkan Axiata sejak tahun lalu memang tengah berunding dengan operator Norwegia, Telenor ASA, untuk mengelola telekomunikasi di Asia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Operator telekomunikasi atau seluler di Indonesia memiliki tiga kelas harga dengan masing-masing fitur khas. Kelas paling mahal adalah Indosat milik Qatar, kelas agak mahal adalah Hutchinson Three (Tri Indonesia) dan yang mungkin paling murah adalah Sampoerna Telekomunikasi (NET1)," ungkap Nonot.

Kepala Eksekutif Axiata, Jamaludin Ibrahim mengatakan, Axiata Group, dengan kapitalisasi pasar sekitar US$8 miliar atau hampir Rp117 triliun, telah melakukan uji tuntas tahun lalu, dan informasi dari itu dapat berguna jika kesepakatan akan terwujud tahun ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut