Facebook Mau Tuntut Thailand

Logo Facebook.
Sumber :
  • Instagram/@sykorce

VIVA – Facebook berencana mengambil tindakan hukum setelah pemerintah Thailand memaksa mereka memblokir kelompok antipemerintah Royalist Marketplace yang dianggap kritis terhadap negeri Gajah Putih tersebut. Grup Facebook ini dibentuk pada April 2020 oleh Pavin Chachavalpongpun yang sudah memiliki anggota lebih dari 1 juta orang.

img_title Warga Thailand Buronan Kasus Korupsi Ditangkap di RI, Langsung Dideportasi

Mengutip situs The Verge, Rabu, 26 Agustus 2020, Kementerian Ekonomi dan Masyarakat Digital Thailand yang meminta Facebook yang memblokir kelompok itu karena dianggap ilegal, lantaran subversif dan pencemaran nama baik kerajaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Baca: Facebook dan India Main Mata soal Unggahan Anti-Islam

img_title YouTuber Edward Halim Minta Maaf ke Komunitas LGBTQ+, Imbas Dihujat Usai Hina Penjual Baju di Thailand

Di bawah hukum Thailand, memfitnah raja, ratu, atau pewaris kerajaan dapat dihukum penjara 15 tahun. Hukum semakin banyak digunakan sebagai alat politik, karena warga negara Thailand biasa - serta pemerintah - dapat mengajukan tuntutan atas nama Raja. Meskipun demikian, ribuan pengunjuk rasa telah turun ke jalan di ibu kota Bangkok, dalam beberapa hari terakhir, beberapa menuntut reformasi.

"Permintaan seperti ini berat, melanggar hukum hak asasi manusia internasional, dan memiliki efek mengerikan pada kemampuan orang untuk mengekspresikan diri. Kami bekerja untuk melindungi dan membela hak-hak semua pengguna internet dan bersiap untuk secara hukum menentang permintaan ini," demikian menurut keterangan resmi Facebook.

img_title Meta Nonaktifkan Ratusan Ribu Akun, Facebook Jadi Sorotan!

Media sosial besutan Mark Zuckerberg itu juga mengatakan telah mendapat tekanan dari pemerintah Thailand untuk membatasi beberapa jenis pidato politik di negara itu, dengan pemerintah mengancam proses pidana terhadap perwakilan Facebook di Thailand.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Royalist Marketplace dimulai oleh Pavin Chachavalpongpun, seorang pembangkang Thailand yang kini tinggal di Jepang. Baik Kementerian Ekonomi dan Masyarakat Digital Thailand maupun Pavin belum merespons tindakan hukum Facebook tersebut.

Tak hanya Thailand, Facebook juga juga menghadapi pengawasan dari Parlemen India, setelah sebuah laporan baru dari Wall Street Journal pada pekan lalu mengungkapkan bahwa seorang politisi dari partai yang berkuasa di India diizinkan untuk tetap di platform tersebut meskipun melanggar aturan ujaran kebencian (hate speech) Facebook.

Bek kiri Timnas Indonesia, Calvin Verdonk

Usai Bawa Timnas Indonesia Juara, Calvin Verdonk Titip Pesan Menyentuh untuk Anak-anak

Calvin Verdonk beri pesan menyentuh untuk anak-anak usai bawa Indonesia juara Piala ASEAN FIFA 2026 dan hapus catatan kelam adu penalti atas Thailand.

img_title
VIVA.co.id
9 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut