Operator Seluler Beri Bantuan, Nadiem Makarim Kasih Peringatan
- ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
XL Axiata
PT XL Axiata Tbk menyalurkan bantuan paket internet gratis untuk para pelajar di beberapa provinsi. Minggu lalu giliran pelajar sekolah di Lampung dan pelajar madrasah wilayah Jawa Timur dan Kalimantan Barat.
Paket ini terdiri dari kartu perdana dan kuota data 30GB. Untuk Lampung, ada 350 ribu paket internet yang dibagikan, sedangkan Jawa Timur ad total 1,8 juta paket internet gratis untuk pelajar dan pengajar madrasah, sementara bagi wilayah Kalimantan Barat terdapat 125 ribu paket.
Smartfren
Smartfren juga melakukan Kerjasama dengan Kementerian Agama untuk menyalurkan kartu perdana bagi pendidik. Selain itu operator seluler tersebut juga telah meluncurkan promo gratis kuota 30GB untuk mengakses Ruangguru.
Mereka juga membagikan Mifi dan kartu perdana gratis bagi SMPN 1 Rembang Jawa Tengah dan untuk beberapa sekilas di Banjarmasin Kalimantan Sekolah yaitu SDN Sungai Anfai 3, SDN Kuin Selatan 4, SDN Pemurus 1, SDN Seberang Mesjid 5, dan SDN Benua Anyar.
Tri Indonesia
Sementara Tri Indonesia melakukan penambahan kuota untuk dibagikan bersamaan dengan kuota belajar dari pemerintah. Kuota itu sebesar 30GB dengan 10GB untuk mengakses semua aplikasi dan 20GB bagi akses pada aplikasi e-learning seperti Ruangguru, Edmodo, dan Google Classroom.
Pengguna Tri tinggal membalas SMS Notifikasi yang akan dikirimkan pada nomor terdaftar. Ketik 'TRI' maka kuota 30GB akan langsung diterima. Selain 30GB, Tri juga menambah 6GB kuota internet bagi penggunanya yang pertama kali mengunduh aplikasi Bima Plus.
Pada kesempatan terpisah, Mendikbud Nadiem Makarim mengingatkan kepada para siswa/i maupun mahasiswa/i supaya melapor ke kepala sekolah dan pimpinan perguruan tinggi atau universitas jika tidak mendapat bantuan kuota internet gratis dari pemerintah.
"Langsung lapor ke kepala sekolah atau pimpinan universitas nomor-nomor yang telah didaftarkan sebelumnya. Itu tahap pertama," tegas Nadiem Makarim. Pria yang akrab disapa Mas Menteri itu mengatakan kepala sekolah dan pimpinan universitas memiliki tanggung jawab untuk mengakurasi nomor-nomor yang telah didaftarkan.
Dengan begitu masyarakat tinggal menyampaikan nomor yang didaftarkan. Setelah itu memastikan jika nomor ponselnya terdaftar dan juga aktif. "Kebanyakan isu kalau belum menerima itu artinya input-nya salah atau nomornya bukan nomor yang aktif," ungkapnya.