Facebook Belum Aman

WhatsApp dan Facebook.
Sumber :
  • Kaspersky

VIVA – Padamnya WhatsApp, Facebook, dan Instagram secara bersamaan selama 6 jam pada Senin malam, 4 Oktober kemarin menimbulkan pertanyaan pengguna di seluruh dunia. Grup media sosial besutan Mark Zuckerberg itu tidak menyebutkan alasan tumbangnya ketiga platform terpopuler tersebut.

img_title Terungkap! WNI yang Diduga Jadi Tentara Rusia Kirim Pesan WhatsApp ke Jubir Kemlu

Vice President Infrastructure Facebook, Santosh Janardhan, mengaku menemukan perubahan konfigurasi pada router backbone yang mengkoordinasikan lalu lintas jaringan antara data center (pusat data) menjadi biang kerok gangguan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Tim teknik kami telah mengetahui bahwa perubahan konfigurasi pada router backbone yang mengoordinasikan lalu lintas jaringan antara pusat data kami menyebabkan masalah yang mengganggu komunikasi ini. Gangguan pada lalu lintas jaringan ini punya efek berjenjang pada cara pusat data kami berkomunikasi, sehingga menghentikan layanan kami," ungkap Janardhan, seperti dikutip VIVA Tekno dari situs Russia Today, Rabu, 6 Oktober 2021.

img_title Daftar HP Android yang Enggak Diterima WhatsApp, iPhone Sebentar Lagi

Ia menambahkan penyebab utama pemadaman ini juga mempengaruhi banyak alat dan sistem internal yang digunakan tim teknik Facebook dalam operasi sehari-hari, sehingga mempersulit upaya mereka untuk mendiagnosis dan menyelesaikan masalah dengan cepat.

Di sisi lain, muncul laporan bahwa sebanyak 1,5 miliar data pengguna Facebook dilaporkan ditawarkan di dark web. Laporan itu dipaparkan oleh situs berita keamanan siber Privacy Affairs.

img_title Cek HP Android Kamu Sekarang kalau Tidak Mau Jadi 'Sampah'

Menurut laporan mereka, penawaran data itu mencakup ID pengguna, nama asli, alamat email, nomor telepon, hingga lokasi pengguna. Disebutkan si penjual mematok harga sekitar US$5 ribu (sekitar Rp71 juta) per sejuta nama, seperti dikutip dari Sputniknews.

Privacy Affairs memberitakan, data itu diduga asli dengan si penjual mendapatkannya melalui metode scrapping. Singkatnya, si penawar mendapatkan informasi yang dipampang pengguna secara publik, atau memanfaatkan aplikasi atau kuis untuk memperoleh akses.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mereka juga menyebut 1,5 miliar data Facebook yang ditawarkan ke dark web merupakan pencurian paling signifikan saat ini. Akses ilegal ini disebut tiga kali lebih besar ketika terjadi kebocoran 533 juta data telepon pada April 2021. Saat itu, Facebook menyatakan data tersebut merupakan data lama, dan kerentanan keamanan sudah ditambal sejak 2019.

Menanggapi laporan itu, Janardhan menegaskan tidak ada bukti kuat yang mengarah pada kebocoran data pengguna. "Kami ingin menegaskan di sini bahwa kami yakin akar masalah penyebab pemadaman adalah perubahan konfigurasi yang salah. Kami juga tidak memiliki bukti data pengguna telah disusupi peretas (hacker) sebagai akibat dari tidak beroperasinya Facebook, WhatsApp, dan Instagram," tegasnya.

Ilustrasi WhatsApp. (FOTO: BBC)

Galeri HP Penuh Gegara Foto WhatsApp? Coba Matikan Fitur Ini Tanpa Harus Menghapus Chat

Galeri HP penuh karena foto WhatsApp? Coba matikan visibilitas media dan unduh otomatis. Chat tetap tersimpan, tetapi foto dan video tak lagi memenuhi galeri.

img_title
VIVA.co.id
18 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut