5 Prinsip supaya Aman Berselancar di Dunia Maya

Ilustrasi dunia maya.
Sumber :
  • U-Report

VIVA Tekno – Check Point Software Technologies selaku penyedia solusi keamanan siber global mengungkapkan, sektor keuangan dan perbankan di Indonesia merupakan industri yang menempati peringkat kedua terbanyak yang mengalami serangan siber, naik dari posisi tiga pada tahun lalu.

img_title Uni Eropa Resmi Wajibkan Laporan Serangan Siber dalam 24 Jam

Rata-rata, lembaga-lembaga keuangan di Indonesia mengalami serangan 2.730 kali per minggu dalam enam bulan terakhir, atau 252 persen lebih banyak dari rata-rata global yang mengalami 1.083 serangan siber. Secara global, sektor keuangan dan perbankan menempati urutan ke-6 dalam industri yang paling banyak mengalami serangan siber.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Tingginya tingkat serangan siber di Indonesia dibandingkan dengan statistik global menunjukkan para penyerang keamanan siber lebih sukses melakukan serangan siber di negara ini," kata Deon Oswari, Country Manager Indonesia, Check Point Software Technologies, Rabu, 24 Agustus 2022.

img_title Ancaman Siber Makin Licin, Jangan Asal Instal di HP

Menurutnya, ketika penyerang menemukan cara untuk mengelabui pengguna atau mengkompromikan sistem, mereka akan memperluas operasi mereka dengan cepat untuk memanfaatkan kerentanan sebelum industri tersebut dapat bereaksi.

Untuk kasus di Indonesia, kata Deon, Check Point Research melihat adanya peningkatan serangan pada platform dan aplikasi mobile banking.

img_title Pembangkit Listrik Lumpuh akibat Serangan Siber

Ilustrasi hacker cantik.

Photo :
  • Dreams Time

"Oleh karena itu, sangat penting bagi industri perbankan untuk waspada dan meninjau ulang sistem keamanan siber mereka. Semakin banyak Anda mengetahui tentang ancaman siber dan risiko di luar sana, semakin baik perusahaan-perusahaan FSI (financial services sector) tersebut menempati posisi untuk dapat mengambil tindakan dan menerapkan kontrol," ungkap dia.

Pada awal tahun ini, Bank Indonesia mengumumkan bahwa jaringan mereka terkena serangan ransomware. Pelaku ancaman mencuri data non-kritis mengenai karyawan bank sebelum mengenkripsi sistem. Kelompok hacker Conti Ransomware mengklaim serangan tersebut setelah membocorkan sebagian file yang diduga telah dicuri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Agar ransomware bekerja, penjahat siber pertama-tama perlu mendapatkan akses menuju sistem target, mengenkripsi file, dan kemudian meminta tebusan dari korban.

Salah satu cara untuk menyusup ke sistem adalah melalui email phishing, salah satu mekanisme pengiriman paling umum untuk ransomware. Faktanya, Check Point Research menemukan bahwa 92 persen file berbahaya di Indonesia dikirim melalui email dalam 30 hari terakhir.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut