AMSI: ChatGPT Ibarat Pisau Bermata Dua

Ketua Umum AMSI Pusat Wenseslaus Manggut (kanan).
Sumber :
  • Dok. AMSI

VIVA Tekno – Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian masif. Terbaru, publik diramaikan atas kecanggihan teknologi AI dari ChatGPT besutan perusahaan startup Open AI milik Elon Musk. Lantas, apa dampaknya terhadap industri media?

img_title Pemilu Israel Memanas, Netanyahu Dituding Pakai AI untuk Gambarkan Antrean Pemilih Arab

Menurut Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wenseslaus Manggut, kehadiran ChatGPT telah memberikan sebuah tantangan bagi industri media. Karena memiliki plus minus apabila media khususnya pekerjaan mengadopsi kecanggihan dari AI, seperti ChatGPT.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Artinya bahwa dari sisi publisher jurnalis pasti ada isu apakah ChatGPT aman dari sisi etik, moralitas, dan yuridis dan sejenisnya pasti ada pertanyaannya seperti itu. Tapi dari sisi bisnis orang bisa bilang ini menghemat banyak, bisa menambah jumlah volume," kata dia di Jakarta, Rabu, 22 Februari 2023.

img_title Steam Next Fest 2026 Ungkap 50 Demo Terpopuler, Game Co-op dan Incremental Makin Diminati

Dengan dua gambaran garis besar plus minus dari kehadiran ChatGPT, Wenseslaus memandang industri media bisa secara bijak melakukan langkah hybrid. Dengan melimitasi beberapa sektor pekerjaan yang bisa dipakai memakai AI dan sektor lain tetap mempertahankan dikerjakan secara manual.

"Nah, saya kira industri publisher bisa memakai secara bijak dengan melimitasi hybrid tidak murni tapi di hybrid. Kedua, hybrid pun bisa delimitasi di konteks-konteks yang low risk regulasi, etik dan moralitas," tutur dia.

img_title Bill Gates Beri Peringatan soal AI, 20 Tahun ke Depan Bisa Mengubah Nasib Pekerja di Seluruh Dunia

Wenseslaus Manggut menganalogikan kemajuan teknologi AI ChatGPT ibaratkan pisau bermata dua bagi industri media. Karena, pekerjaan media, khususnya jurnalis harus tetap memiliki perasaan dari manusia.

"Ada plus dan minusnya, pisau bermata dua. (Jurnalis) tak akan pernah tergantikan karena unsur mendefinisikan unsur kepentingan publik meraba perasaan publik itukan membutuhkan manusia. Tidak bisa dikerjakan si mesin, menganalisis, lagi-lagi media itu membutuhkan independent," bebernya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena kebutuhan sikap independent itulah, Wenseslaus menegaskan jurnalis harus bisa menjalankan tugas tersebut. Ketika sikap independent dipandang berbeda dengan netral yang masih bisa dijangkau AI.

"Karena kalau netral itu si A bilang hujan si B bilang kering, tapi si media menulis dua-duanya. Kata si A hujan dan si B kering. Nah independen itu dia keluar langsung mengecek memastikan hujan atau kering itulah independen, bukan netral," tegasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut