Tantangan Ekosistem Data Center di Indonesia

Perusahaan teknologi China ZTE.
Sumber :
  • South China Morning Post

VIVA Tekno – Riset Frost & Sullivan menyebutkan tujuh negara di Asia mengalami pertumbuhan pendapatan pusat data yang signifikan. Singapura dinilai sebagai pusat data center terbesar di Asia Tenggara, diikuti oleh Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

img_title Parkir di Gang Sempit Bikin Keringat Dingin, Mobil Ini Punya Cara Sendiri

Indonesia, khususnya, memiliki rata-rata pertumbuhan industri tertinggi di kawasan ini. Penyedia solusi teknologi informasi dan komunikasi asal China, ZTE, mengingatkan pentingnya upaya untuk mengatasi tantangan dalam ekosistem pusat data sebagai upaya mendukung pertumbuhan data center di Indonesia yang kian berkembang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dengan meningkatkan efisiensi energi, memodernisasi praktik konstruksi, serta mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan, kita dapat menciptakan ekosistem data center yang lebih berkelanjutan dan efisien," kata Vice President ZTE Corporation Chu Yanli, dalam pernyataan resminya, Sabtu, 13 Mei 2023.

img_title Oppo Indonesia Buka Registrasi Minat Find X10, Ini Spesifikasi Lengkapnya

Ia juga memastikan upaya meningkatkan efisiensi menjadi tantangan, mengingat semakin tinggi rasio total daya yang digunakan pusat data dengan daya yang dikirimkan ke peralatan komputasi atau power usage effectiveness (PUE), maka semakin tinggi biaya yang dibutuhkan.

Sementara itu, beberapa negara sudah menerapkan kebijakan emisi karbon yang lebih ketat, termasuk rencana kebijakan zero-emission pada 2060 di Indonesia yang mengharuskan penggunaan pusat data ramah lingkungan dan menggunakan teknologi hemat energi.

img_title As Roda Belakang Chery Omoda 5 Copot, Bos Besar Chery Sampai Minta Maaf

"Untuk mematuhi kebijakan tersebut, diperlukan integrasi yang mendalam antara catu daya dan distribusi, koneksi yang disederhanakan, sistem pendingin yang lebih efisien, dan penggunaan Smart Management dengan sistem AI," ungkap Yanli.

Selain itu, menurut dia, implementasi pembangunan pusat data juga menjadi tantangan yang cukup besar karena masih adanya bentuk perencanaan yang tidak sesuai dengan layanan data center modern.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ini, jenis investasi tradisional yang masih menganut konsep satu kali perencanaan, satu kali investasi, dan penyertaan modal yang besar, tidak sesuai dengan model pembangunan pusat data yang pada masa sekarang menganut beberapa fase investasi.

"Solusi prefabrikasi yang inovatif diperlukan untuk mewujudkan implementasi solusi dan layanan yang cepat. Hal ini dapat dicapai melalui modularisasi ruang data, modularisasi sistem secara penuh, dan solusi inovatif seperti data center prefabrikasi modular lengkap dan data center kontainer," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut