Cuaca Cepat Berubah, Normalkah

Ilustrasi cuaca panas.
Sumber :
  • Pixabay

Dalam beberapa hari terakhir, hujan lebat terjadi di beberapa wilayah Indonesia seperti Banten, Jawa Barat, Jakarta, dan Maluku.

img_title Karhutla Mengancam Saat Kemarau, Polri Dorong Deteksi Dini di Kaltim

Hal ini disebabkan oleh dinamika atmosfer skala regional yang cukup signifikan, termasuk aktivitas fenomena MJO, Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena MJO adalah dinamika atmosfer yang terjadi di wilayah tropis, di mana sistem awan hujan bergerak di sepanjang khatulistiwa dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik, melewati wilayah Indonesia.

img_title Daerah di Indonesia yang Bakal Diguyur Hujan Disertai Petir Hari Ini, BMKG Minta Untuk Waspada

MJO, lanjut Dwikorita Karnawati, bersifat temporal dan akan terulang setiap 30 hingga 60 hari.

img_title BMKG Pastikan Tak Ada Indikasi Tsunami Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Meskipun musim kemarau terjadi selama berbulan-bulan, MJO hanya berlangsung dalam hitungan beberapa hari hingga beberapa minggu dan dapat meningkatkan kemungkinan hujan intens, bahkan di musim kemarau.

Pada periode 3 - 6 Juli 2024, MJO, Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin aktif di Indonesia bagian tengah dan selatan.

BMKG telah mendeteksi fenomena MJO sejak 28 Juni dan mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat sejak saat itu.

Beberapa wilayah seperti Sumatra bagian selatan, Jawa (termasuk Jabodetabek), Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian selatan mengalami peningkatan curah hujan akibat kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan.

Selain iklim dan dinamika atmosfer, kondisi topografi juga mempengaruhi tipe hujan di Indonesia.

Topografi Indonesia yang beragam, dengan pegunungan, lembah, dan pantai, menambah keragaman kondisi iklim di wilayah tersebut.

Ini menyebabkan Indonesia terbagi menjadi banyak zona musim dengan periode waktu terjadinya musim hujan dan musim kemarau yang berbeda.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menambahkan berdasarkan analisis cuaca terbaru, masih ada potensi peningkatan curah hujan signifikan di wilayah Indonesia meskipun telah memasuki musim kemarau.

Aktivitas fenomena cuaca seperti MJO, Gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial, serta suhu permukaan laut yang hangat, turut berkontribusi dalam pembentukan awan hujan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Secara umum, kombinasi faktor-faktor ini diperkirakan akan menimbulkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah Indonesia.

Pada 8-10 Juli 2024, hujan diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa bagian barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut