Jangan Coba Bikin Tipuan Suara di Meta

Ilustrasi suara atau audio.
Sumber :
  • Pixabay/mtmmonline

VIVA Tekno – Teknologi replikasi suara telah berkembang pesat sehingga memungkinkan kita membuat tiruan suara seseorang dengan sangat mirip hanya dari sampel audio yang singkat.

img_title AI Bukan Lagi Sekadar Tren, 69 Persen Pekerja Indonesia Sudah Memakainya

Meski teknologi ini membawa banyak manfaat, seperti membantu pembuat konten (content creator) dan industri hiburan, ada risiko besar dari penyalahgunaannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Beberapa pihak tidak bertanggung jawab sudah mulai menggunakan teknologi ini untuk penipuan. Contohnya di Amerika Serikat (AS), di mana ada penipuan yang melibatkan robocaller yang meniru suara Presiden Joe Biden.

img_title Pengangguran Anak Muda China Capai Rekor 18,9 Persen, AI Bikin Persaingan Kerja Makin Ketat

Penipu tersebut berusaha mempengaruhi pemilih Partai Demokrat di New Hampshire agar tidak memberikan suara dalam pemilihan pendahuluan presiden.

Aksi penipuan lainnya melibatkan panggilan telepon palsu yang seolah-olah berasal dari orang terdekat untuk mendapatkan uang.

img_title 7 Teknologi Menarik yang Muncul di Snapdragon Summit 2026, Bukan Cuma Soal Chip HP

Ilustrasi rekaman suara.

Photo :
  • Istimewa

Untuk melawan penyalahgunaan ini, Meta, perusahaan induk Facebook, WhatsApp dan Instagram, mengembangkan teknologi watermarking audio bernama AudioSeal.

AudioSeal adalah teknik watermarking audio pertama yang dirancang khusus untuk mendeteksi ucapan yang dihasilkan oleh AI, seperti dilansir dari IFL Science.

Saat ini, mendeteksi audio sintetis biasanya mengandalkan algoritma yang dilatih untuk membedakannya dari ucapan normal. Namun, pendekatan Meta berbeda.

Mereka menanamkan watermark dalam audio yang dihasilkan. Watermark ini tidak terdengar oleh telinga manusia, tetapi bisa dideteksi oleh algoritma tertentu.

Ilustrasi suara atau audio

Photo :
  • Pixabay/mtmmonline

"Watermarking adalah alternatif yang kuat," jelas tim peneliti Meta dalam makalah yang diposting di server pracetak arXiv. "Ini menanamkan sinyal dalam audio yang dihasilkan, yang tidak terdengar oleh telinga tetapi dapat dideteksi secara kuat oleh algoritma tertentu."

Tim peneliti mengatakan bahwa sistem ini efektif dalam mendeteksi watermark dengan tingkat akurasi antara 90 dan 100 persen.

Namun, metode ini memerlukan perusahaan teknologi penghasil suara untuk memasukkan watermark dalam file audio mereka, yang mungkin belum akan terjadi dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski teknologi watermarking ini menjanjikan, ada juga potensi penyalahgunaan. Misalnya, pemerintah bisa menggunakannya untuk mengawasi pembangkang atau perusahaan bisa mengidentifikasi pelapor.

Selain itu, watermarking bisa digunakan untuk menegakkan hak cipta pada konten yang dihasilkan pengguna, yang dapat meningkatkan skeptisisme tentang keaslian komunikasi digital dan merusak kepercayaan pada media digital dan AI.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut