Sektor Ritel Indonesia Terancam

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim.
Sumber :
  • Dok. Fortinet

Jakarta, VIVA – Seiring dengan terus berkembangnya ekonomi digital di Indonesia, adopsi cepat terhadap perdagangan melalui perangkat seluler dan pembayaran digital membawa kemudahan sekaligus meningkatkan risiko keamanan siber.

img_title Steam Next Fest 2026 Ungkap 50 Demo Terpopuler, Game Co-op dan Incremental Makin Diminati

Pada 2030, Indonesia diperkirakan akan memiliki 380 juta pengguna ponsel pintar (smartphone/HP), sementara nilai transaksi pembayaran digital diproyeksikan mencapai US$88,42 miliar pada 2028.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pertumbuhan ini juga menjadikan para pelaku ritel dan konsumen sebagai target utama ancaman siber, terutama selama puncak musim belanja seperti Ramadan dan Idul Fitri (RAFI).

img_title Bill Gates Beri Peringatan soal AI, 20 Tahun ke Depan Bisa Mengubah Nasib Pekerja di Seluruh Dunia

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, menekankan pentingnya mengamankan jaringan dan transaksi ritel.

“Pelaku ritel harus menerapkan pendekatan keamanan yang proaktif, yang mengintegrasikan intelijen ancaman berbasis kecerdasan buatan (AI), SD-WAN yang aman, dan Zero Trust Network Access (ZTNA) untuk melindungi bisnis maupun konsumen dari risiko siber yang terus berkembang,” kata dia.

img_title 15 Juta Pekerja Terancam Kehilangan Mata Pencaharian Gara-Gara AI, Ini Skenario Terburuk Goldman Sachs

FortiGuard Labs dari Fortinet telah mengidentifikasi peningkatan yang mengkhawatirkan dalam penipuan phishing, situs e-commerce palsu, dan skema pembayaran digital palsu yang menyasar para pembeli di Indonesia.

Pelaku kejahatan siber semakin sering memanfaatkan serangan phishing berbasis AI dan data keuangan yang dicuri untuk menjalankan penipuan yang canggih, yang menimbulkan risiko bagi bisnis maupun konsumen.

Seiring dengan percepatan digitalisasi sektor ritel, konvergensi antara keamanan dan jaringan menjadi sangat krusial.

Solusi seperti Fortinet Secure SD-WAN serta kerangka kerja keamanan siber berbasis AI memungkinkan pelaku ritel untuk melindungi transaksi sensitif, meningkatkan visibilitas jaringan, dan mencegah pelanggaran sebelum terjadi.

“Strategi keamanan siber yang kuat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan penting bagi pelaku ritel yang ingin menjaga kepercayaan pelanggan dan kelangsungan bisnis,” jelas Edwin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia pun mendorong pelaku usaha untuk mengadopsi strategi keamanan berlapis, pembaruan sistem secara rutin, dan inisiatif edukasi konsumen untuk mengurangi risiko.

“Lanskap ritel digital di Indonesia berkembang sangat pesat, dan pelaku usaha harus tetap selangkah lebih maju dari ancaman siber dengan berinvestasi pada solusi keamanan yang cerdas,” tuturnya.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu

Pemilu Israel Memanas, Netanyahu Dituding Pakai AI untuk Gambarkan Antrean Pemilih Arab

Koalisi tiga partai Arab di Israel, The Joint List, pada Selasa menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggunakan gambar buatan kecerdasan buatan (AI)

img_title
VIVA.co.id
27 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut