Penyu Langka Terancam Sampah Plastik

Penyu belimbing (Dermochelys coriacea).
Sumber :
  • Antara/ Nyoman Budhiana

Jakarta, VIVA – Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) membentang seluas 58 ribu hektare dan mencakup wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Jember, keduanya di Jawa Timur.

img_title WNA Pemburu Penyu di Raja Ampat Terancam Dipidanakan

Dikenal sebagai “Home of Biodiversity”, TNMB memiliki kekayaan hayati luar biasa yang mencakup lima ekosistem utama. Kelimanya yaitu hutan pantai, mangrove, rawa, reophyte, dan hutan hujan dataran rendah—dan menjadi habitat berbagai flora-fauna langka dan terancam punah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu fokus utama konservasi di TNMB adalah pelestarian penyu, khususnya di Pantai Sukamade yang menjadi tempat bertelur bagi empat dari tujuh spesies penyu dunia.

img_title Diduga Bunuh Penyu Belimbing di Raja Ampat, WNA Malaysia Ditangkap Saat Hendak Terbang ke Kuala Lumpur

Keempatnya yakni Penyu Hijau, Penyu Belimbing, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang. Penyu memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan pesisir, mulai dari memelihara lamun dan terumbu karang hingga mendukung siklus nutrisi di pantai.

Selain penyu, TNMB juga menaruh perhatian pada konservasi pandan laut, tanaman pantai yang membantu menahan abrasi dan menjadi habitat alami bagi berbagai fauna, termasuk penyu.

img_title Jangan Terlalu Sering 'Insecure'

Upaya konservasi ini juga melibatkan masyarakat lokal, seperti kelompok tani di Desa Sukamade yang membudidayakan pandan laut sebagai tanaman konservasi bernilai ekonomi.

Dengan lebih dari 500 jenis flora dan 325 jenis fauna yang tercatat, TNMB menjadi laboratorium hidup bagi pendidikan lingkungan dan pelestarian biodiversitas di Indonesia.

Kini, TNMB menghadapi tantangan konservasi yang nyata—dari menurunnya populasi penyu akibat timbunan sampah plastik, hingga risiko abrasi pantai karena kurangnya vegetasi penahan angin. Di sisi lain, minimnya akses informasi pendidikan serta kurangnya literasi akan konservasi alam, menyebabkan pemeliharaan ekosistem menjadi lebih menantang.

Perusahaan penyedia solusi terintegrasi di bidang engineering, procurement and construction (EPC), PT Tectona Mitra Utama (TMU), mendukung program 'Being a Conservationist of Earth' yang digagas oleh Sekolah Alam Indonesia.

Program yang dilakukan di TNMB tersebut dirancang untuk menanamkan kepedulian anak-anak terhadap konservasi alam, keanekaragaman hayati, dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sejak usia dini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Inisiatif ini mengajak anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan, memahami pentingnya keanekaragaman hayati, serta berperan dalam menjaga keseimbangan antara alam, ekosistem, dan masyarakat. Karena keberlanjutan bukan hanya tujuan kami, melainkan fondasi tempat kami berpijak," kata Septri Welly Eka Putra, Chief Executive Officer TMU.

Melalui program ini, TMU mendukung serangkaian kegiatan seperti penanaman vegetasi pandan laut untuk melindungi habitat penyu dan mendukung proses perkembangbiakannya, edukasi konservasi langsung di area penangkaran, pengamatan flora-fauna endemik, serta kampanye “Budaya Baik” yang mencakup bakti pendidikan tentang kampanye pengelolaan sampah ramah lingkungan di SDN 2 Sarongan, dan bakti sosial melalui perbaikan fasilitas Masjid Nurul Huda.

Penangkaran penyu yang dilakukan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Sari Segara Kesiman Kertalangu, Bali.

Nelayan Pantai Biaung Kini Jadi Garda Depan Penjaga Penyu Lekang, Ribuan Tukik Telah Berhasil Dilepasliarkan

Nelayan Pantai Biaung, Bali, kini semakin aktif melestarikan penyu lekang. Kelompok warga berhasil menetaskan dan melepasliarkan ribuan tukik ke habitat alaminya.

img_title
VIVA.co.id
13 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut