Karya AI 'Tak Bernyawa', Manusia Lebih Unggul
- Science HowStuffWorks
Jakarta, VIVA – Siapa pun kini bisa menggunakan program kecerdasan buatan (AI), seperti ChatGPT, untuk menulis puisi, cerita anak-anak, atau naskah film.
Tapi meski sekilas tampak cukup "manusiawi," karya buatan AI tidak memiliki kedalaman atau kekayaan sensorik, demikian penjelasan para peneliti dalam sebuah studi terbaru.
Peneliti menemukan, Model Bahasa Besar (Large Language Models/LLM), yang saat ini menggerakkan AI generatif, tidak mampu merepresentasikan konsep "bunga” sebagaimana manusia memahaminya.
Faktanya, LLM terbukti kurang mampu merepresentasikan apa pun yang memiliki komponen sensorik atau motorik. Penyebabnya adalah karena AI tidak berjasad dan sebabnya tidak memahami pengalaman manusia yang organik.
"Model bahasa besar tidak bisa mencium aroma mawar, menyentuh kelopak bunga aster, atau berjalan melalui ladang bunga liar. Tanpa pengalaman sensorik dan motorik tersebut, model ini tidak bisa menggambarkan bunga dalam kekayaan maknanya. Hal yang sama berlaku untuk konsep manusia lain,” kata Qihui Xu, penulis utama studi dari Ohio State University, Amerika Serikat (AS), seperti dikutip dari situs DW.
Studi ini menunjukkan kemampuan AI yang buruk dalam merepresentasikan konsep sensorik seperti bunga, untuk menjelaskan kenapa kreativitas AI berbeda dari manusia.
"AI tidak memiliki pengalaman sensorik yang kaya, sehingga AI sering menghasilkan karya yang memenuhi definisi minimal kreativitas, tapi kosong dan dangkal,” ujar Mark Runco, ilmuwan kognitif dari Southern Oregon University, AS, yang tidak terlibat dalam studi tersebut. Studi ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature Human Behaviour pada 4 Juni 2025.
Minim konsep sensorik
Semakin dalam ilmuwan menguji cara kerja AI, kian terlihat betapa berbeda "pemikiran” AI dibandingkan manusia. Beberapa bahkan menyebut AI sebagai bentuk kecerdasan asing.
Namun, sulit menguji pemahaman konseptual AI secara objektif. Seandainya para ilmuwan komputer membongkar LLM untuk mempelajari isi algoritmanya, mereka belum tentu bisa memahami arti jutaan angka yang berubah setiap detiknya.
Xu dan timnya menguji seberapa baik LLM "memahami” sebuah hal berdasarkan karakteristik sensorik, dengan mengukur kemampuan AI merepresentasikan kata-kata bermakna sensorik kompleks.