Banyak yang Ketipu Belanja Online! Platform Ini Berani Pasang Badan

Ilustrasi e-commerce.
Sumber :
  • freepik.com/rawpixel.com

Jakarta, VIVA – Di tengah maraknya belanja online, konsumen kini menghadapi tantangan baru, yakni risiko mendapatkan barang palsu serta proses pengembalian dana (refund) yang kerap berbelit dan tak transparan.

img_title Tidak Semua Game Roblox Dibuat Studio Besar, Inilah Sisi Platform yang Sering Luput dari Perhatian

Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), selama lima tahun terakhir, e-commerce selalu berada di peringkat 10 besar sektor dengan keluhan konsumen terbanyak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Untuk refund 29,9 persen dari total aduan, barang tidak sesuai 27,1 persen, penipuan dan pembobolan 7,6 persen. Banyak persoalan berulang di e-commerce. Oleh karena itu, perlu pembenahan sistemik dan pengawasan pemerintah terhadap pelaku usaha," kata Sekretaris Jenderal YLKI Rio Priambodo.

img_title 4 E-Commerce Ini Bakal Resmi Pungut Pajak Mulai 1 November 2026, Shopee hingga Blibli

Ia juga menegaskan pentingnya tanggung jawab menyeluruh dari platform digital, mulai dari informasi iklan yang jujur, sistem penyelesaian sengketa yang adil, hingga perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual (HKI).

Di saat banyak platform masih berjuang membenahi layanan, Blibli justru memberi kebijakan perlindungan ekstra.

img_title Promo Tanggal Kembar Bikin Kalap? Ini Cara Belanja Hemat agar Gaji Tak Cepat Habis

Anak usaha Grup Djarum tersebut menyatakan siap memberikan kompensasi maksimal hingga Rp25 juta jika konsumen menerima barang yang tidak sesuai atau diragukan keasliannya.

“Apabila ada pelanggan yang menerima produk lalu tidak sesuai atau diragukan keasliannya, sampaikan kepada kami lewat layanan pelanggan 24/7. Kami siap menindaklanjuti secara serius, termasuk pengembalian dana secara penuh dan memberikan kompensasi sebanyak satu kali nilai pembelian, maksimal Rp25 juta,” jelas Lisa Widodo, COO dan Co-Founder Blibli.

Kebijakan ini dinilai selangkah lebih maju dibandingkan pemain lainnya. Tak hanya memberi jaminan uang kembali, kompensasi tersebut memperkuat posisi konsumen sebagai pihak yang harus dilindungi penuh dalam transaksi digital.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kepercayaan pelanggan tidak bisa dibangun dengan promosi semata. Harus ada jaminan nyata yang bisa dirasakan, terutama saat pengalaman belanja tidak berjalan sesuai ekspektasi,” tuturnya.

Sikap seperti ini bisa menjadi standar baru dalam industri. Ketika pemain lain masih fokus pada volume transaksi, ada yang mulai menyadari bahwa loyalitas hanya bisa dibangun dari rasa aman dan perlindungan konkret.

Ilustrasi game pc

Malam Halloween Makin Mencekam, Game Horor Ini Mengubah Rumah Biasa Menjadi Tempat Paling Menyeramkan

Malam Halloween identik dengan rumah berhantu, suara misterius, dan bayangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Namun, bagaimana jika tempat yang seharusnya lokasi aman.

img_title
VIVA.co.id
19 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut