Revolusi AI Sudah Datang, Indonesia Sudah Siap?
- Istimewa
Jakarta, VIVA – Sebanyak 71 persen pimpinan bisnis di Indonesia menyampaikan tengah menghadapi tuntutan yang makin tinggi tentang bagaimana data bisa lebih didorong dalam menghasilkan nilai bagi perusahaan.
Disebutkan dalam laporan terbaru Salesforce State of Data and Analytics, bahwa terbatasnya akses terhadap data yang dibutuhkan masih menjadi faktor nomor satu yang menghambat organisasi di Indonesia untuk benar-benar menjadi perusahaan yang berbasis pada data atau “data driven”.
Untuk menggali wawasan ini, Salesforce mewawancarai hampir 8.000 pemimpin — termasuk 200 di Indonesia — mengenai bagaimana mereka mengelola dan mengaktifkan data serta analitik untuk mendukung agentic enterprise. Kesenjangan antara kebutuhan data bisnis dan realitas data yang mereka miliki kian menjadi persoalan di era agentic AI saat ini.
Meskipun para pimpinan bisnis antusias memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendapatkan insight maupun dalam meningkatkan produktivitas, namun para pemangku di sisi teknis perusahaan merasa adanya urgensi dalam menerapkan pendekatan baru terhadap data maupun analitik.
Faktanya, 95 persen pimpinan perusahaan di bidang data dan analitik menyatakan perlunya melakukan perombakan total pada strategi data yang mereka terapkan sebelum mereka dapat menuntaskan penerapan strategi AI dengan sukses.
Guna memupus kesenjangan tersebut, para pimpinan teknis perusahaan perlu lebih fokus pada hal-hal mendasar, yakni bagaimana menghadirkan data secara tepat waktu dan kaya konteks, tata kelola data yang lebih kuat, serta pengembangan arsitektur zero copy yang diharapkan akan mampu membuka akses ke data terdistribusi yang selama ini “terperangkap,” di mana pun lokasinya.
Dalam perjalanan menuju terwujudnya konsep besar agentic enterprises, mereka juga perlu mengadopsi solusi terkini, seperti agentic analytics, yang menghadirkan insight yang tepercaya langsung ke dalam alur kerja. Zero Copy merujuk pada penggunaan data tanpa perlu memindahkan atau menyalinnya dari satu basis data ke basis data lain.
Sebagai contoh, alih-alih menyalin informasi pelanggan ke sistem baru untuk analisis, perusahaan dapat langsung menganalisis data dari sumber aslinya. Pendekatan ini menghemat waktu, menekan biaya, dan mengurangi risiko, terutama saat alat AI membutuhkan akses data yang lebih cepat dan bersih.