Telkomsel Andalkan AI tapi Tak Mau Terjebak Bubble
- VIVA/Lazuardhi Utama
"Kalau ada sebuah hype, biasanya memang selalu ada potensi bubble. Dulu ada internet bubble, lalu startup bubble. Bahkan, ada 3G bubble cuma tidak terlalu digembar-gemborkan," ungkap Nugroho.
Ia mengingatkan, pada era 3G, banyak operator telekomunikasi yang jor-joran berinvestasi, namun pada akhirnya kolaps karena perhitungan bisnis yang tidak matang. Pelajaran tersebut relevan dengan tren AI saat ini.
"Kuncinya balancing antara investment dan monetization. Kalau tidak seimbang maka bisa jadi korban bubble. Early investment yang terlalu besar juga berisiko," jelasnya.
Terkait kondisi di Indonesia, Nugroho menilai perkembangan AI masih relatif terkendali dan lebih proper. Hal ini tak lepas dari pengalaman pahit industri digital beberapa tahun terakhir.
"Orang-orang masih trauma dengan startup bubble. Itu membuat pelaku industri lebih hati-hati untuk berinvestasi besar-besaran di teknologi yang sedang booming. Cara-cara untuk menghindari risiko bubble juga sudah kami pelajari," tuturnya.