Sciences Po Saint-Germain: 'Tempat Kongkow' Para Agen Intelijen
- Sciences Po Saint-Germain
Jakarta, VIVA – Jika Anda ingin menciptakan latar untuk sekolah mata-mata atau agen intelijen, maka Sciences Po Saint-Germain di pinggiran Paris, Prancis, mungkin sangat cocok.
Dengan bangunan-bangunan awal abad ke-20 yang suram, bahkan tampak muram, dikelilingi oleh jalan-jalan yang ramai dan membosankan serta gerbang logam besar yang mengintimidasi, tempat ini memiliki nuansa yang sangat tenang.
Yang membuat kampus ini istimewa adalah ijazahnya yang unik, karena menggabungkan mahasiswa pada umumnya berusia 20-an tahun dengan anggota aktif dinas intelijen Prancis, yang berumur 35 sampai 50 tahun.
Kursus ini disebut Diplôme sur le Renseignement et les Menaces Globales, yang diterjemahkan sebagai Diploma Intelijen dan Ancaman Global.
Program tersebut dikembangkan oleh universitas tersebut bekerja sama dengan Academie du Renseignement, yaitu lembaga pelatihan dari dinas intelijen Prancis.
Profesor Sciences Po Saint-Germain, Xavier Crettiez, mengakui kalau dirinya tidak mengetahui nama asli dari banyak mahasiswa di kelasnya.
"Saya jarang mengetahui latar belakang agen intelijen ketika mereka dikirim mengikuti pelatihan, dan saya ragu nama-nama yang diberikan kepada saya itu asli," kata dia, seperti dikutip dari situs BBC, Jumat, 9 Januari 2026.
Keberadaan kursus bagi para agen intelijen Prancis ini berawal dari permintaan dari pihak berwenang Prancis pada satu dekade lalu.
Setelah serangan teroris di Paris pada 2015, pemerintah melakukan perekrutan besar-besaran di dalam badan-badan intelijen Prancis.
Lembaga tersebut meminta Sciences Po Saint-Germain, salah satu kampus terkemuka di Prancis, untuk membuat kurikulum baru yang bertujuan untuk melatih calon mata-mata baru, serta memberikan pelatihan berkelanjutan bagi agen yang sudah ada.
Perusahaan-perusahaan besar Prancis juga dengan cepat menunjukkan minat, baik dalam memasukkan staf keamanan mereka ke dalam kursus tersebut, maupun merekrut banyak lulusan muda.
Diploma ini terdiri dari 120 jam pembelajaran di kelas dengan modul yang tersebar selama empat bulan. Untuk mahasiswa eksternal – para mata-mata dan mereka yang menjalani magang dari perusahaan – biayanya sebesar Rp97,6 juta (5 ribu Euro).
Tujuan utama kursus ini adalah untuk mengidentifikasi ancaman di mana pun mereka berada, serta cara melacak dan mengatasinya.