China Dituding Mainkan Ilusi Kekuatan

Presiden China Xi Jinping.
Sumber :
  • The Guardian

Jakarta, VIVA – China mengumumkan desain kapal induk terbang bernama "Luanniao". Ini adalah proyek ambisius yang kelak akan beroperasi sebagai senjata super luar angkasa untuk perang masa depan.

img_title Bakal Kembangkan Teknologi Battery Swapping Terintegrasi, Geely Kucurkan Investasi Senilai Rp1.7 T

Sejumlah analisis yang dekat dengan perspektif Amerika Serikat (AS) membaca Luanniao bukan sebagai cetak biru pembangunan, melainkan sinyal strategis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Majalah The National Interest bahkan menulis, "Beijing Wants You to Believe It's Building Flying Aircraft Carriers".

img_title China Punya Cara Sendiri Mengontrol Informasi di Era Digital

China ingin dunia percaya klaim mereka sedang membangun senjata super, terlepas dari apakah mereka benar-benar akan dibangun.

Visi tersebut, tulis majalah itu, sengaja mengaburkan batas antara fiksi ilmiah dan realitas teknologi, demi membuat Barat gelisah dan memaksa mereka menguras sumber daya.

img_title Pengangguran Anak Muda China Capai Rekor 18,9 Persen, AI Bikin Persaingan Kerja Makin Ketat

Bagi Diplomat Jerman sekaligus analis antariksa Heinrich Kreft, pengumuman ini terdengar seperti pesan yang sengaja dilepas dalam perang psikologis melawan AS, terutama di bawah bayang-bayang konflik Taiwan.

"Ini seperti China menanam tanda, meninggalkan jejak," katanya, seperti dikutip dari situs DW, Senin, 26 Januari 2026.

Ia juga mengingatkan bahwa Luanniao hanyalah satu dari rangkaian pengumuman senjata super China, mulai dari senjata pemburu kapal selam hingga sistem berbasis antariksa, yang kerap dinilai tidak realistis oleh pakar Barat, tetapi jelas berfungsi sebagai bagian dari lanskap ancaman.

Kreft menyebutnya "humbug, perang psikologis," seraya mengingatkan agar dunia tidak lengah.

China, lanjut dia, terus mengembangkan beragam proyek masa depan, termasuk senjata laser, di mana Beijing "tampak lebih maju dibanding siapa pun".

Sedangkan, Juliana Süß, pakar keamanan antariksa dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik (SWP) Jerman, memandang proyek ini melalui kacamata pencegahan.

"Ini tentang menunjukkan kekuatan dan memproyeksikan kekuasaan lintas dimensi," ujarnya. Ia menilai presentasi Luanniao sebagai respons terhadap rencana pertahanan rudal AS di luar angkasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Proyek "Golden Dome", yang digagas pada era Donald Trump, bertujuan melindungi AS dengan jaringan berlapis sistem pencegat darat, laut, radar, dan kemungkinan sistem berbasis antariksa.

"Program itu sendiri dianggap sangat ambisius dan sarat risiko strategis," tegas Süß. Akan tetapi, kunci pencegahan tetaplah kredibilitas.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut