Disrupsi Digital Bagian dari Rantai Peradaban

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VIVA - Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi tantangan yang tidak mudah bagi pers Indonesia. Sebab, saat ini masyarakat tidak hanya butuh informasi yang cepat, namun juga tepat.

img_title Danantara Siap Umumkan Investasi AI dan Pusat Data di New Asia Forum 2026

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan bahwa disinformasi atau hoax menjadi salah satu pekerjaan rumah yang tidak hanya dialami oleh Indonesia, tapi juga dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menegaskan jika Kemkomdigi berada di garda terdepan untuk menjaga kebebasan berekspresi, dan kebebasan pers, namun tetap bertanggung jawab.

img_title Danantara Siapkan Investasi Besar pada 2027, Mineral Kritis hingga AI Jadi Incaran

Karena, pada prinsipnya selain memberikan informasi, pers juga memiliki tugas untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat dari informasi yang tidak benar (disinformasi atau hoax).

"Perkembangan AI mengubah cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi sehingga mempercepat dan memperbesar volume informasi, namun berisiko disinformasi, manipulasi fakta, dan erosi kepercayaan publik juga semakin nyata," ungkap Menkomdigi Meutya Hafid, Kamis, 12 Februari 2026.

img_title Bukan Sekadar Membuat Bangunan, AI di Minecraft Bisa Membantu Pemain Merancang Kota Lebih Mudah

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyampaikan bahwa saat ini jurnalisme berada pada situasi disrupsi digital, di mana hal tersebut merupakan bagian dari rantai peradaban.

Industri pers Indonesia diterpa oleh dua kali disrupsi yang signifikan. Pertama, disrupsi internet yang membuat media-media tradisional bermigrasi ke digital. Kedua, disrupsi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Masa depan jurnalisme bukan lagi sebuah ketakutan bahwa wartawan akan digantikan oleh AI, tetapi bahwa teknologi seperti AI akan menguras semua sumber daya yang ada di ekosistem media yang memproduksi jurnalistik berkualitas," tegasnya.

Diskusi ini diselenggarakan sebagai rangkaian Hari Pers Nasional 2026 yang dihadiri para pemangku kepentingan dari regulator, insan pers, asosiasi industri, hingga perwakilan platform digital.

Ilustrasi santri mengaji

Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Buatan, Bagaimana Santri Menghadapi Perubahan Zaman?

Santri menghadapi era kecerdasan buatan tanpa meninggalkan kitab kuning dan adab. Simak peluang AI, tantangan literasi digital, serta cara pesantren menyiapkan generasi.

img_title
VIVA.co.id
22 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut