Puasa Ikut Pemerintah tapi Lebaran ke Muhammadiyah, Ada Risikonya

Kegiatan puasa Ramadan di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat.
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

Jakarta, VIVA - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan awal puasa Ramadhan 2026 / 1447 Hijriah jatuh pada Kamis hari ini, 19 Februari.

img_title Utang Luar Negeri RI Juli 2026 Naik Jadi US$454,8 Miliar Gegara Ini

Hal tersebut diikuti oleh Nahdlatul Ulama (NU). Satu hari sebelumnya, atau Rabu, 18 Februari, Muhammadiyah sudah lebih dahulu menjalankan ibadah puasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berbeda dengan tahun lalu, ketika awal puasa serentak, tahun ini terjadi perbedaan awal Ramadan. Seperti diketahui, Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab dan Parameter Kalender Global (PKG) memutuskan 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

img_title Komisi IX DPR Usul Korban Keracunan MBG Dapat Uang Kompensasi dari Pemerintah

Sementara Kemenag yang menggabungkan metode hisab dan rukyat, juga bersandar pada kriteria MABIMS, menetapkan awal puasa pada Kamis hari ini. Demikian pula NU yang mengutamakan rukyatul hilal, mengikhbarkan puasa mengikuti pemerintah.

Seiring dengan perbedaan awal puasa Ramadan 2026, muncul pertanyaan guyon, "apakah boleh awal puasa ikut pemerintah / NU, tetapi Lebaran ikut Muhammadiyah?"

img_title Pemerintah Yaman Serang Wilayah Dikuasai Houthi di Pesisir Barat Laut Merah

Jawabannya ada risiko kekurangan hari puasa. Jadi begini. Dalam kalender Hijriah, satu bulan hanya mungkin berumur 29 atau 30 hari. Tidak ada bulan yang berumur 28 hari.

Jika kita puasa ikut yang harinya belakangan, misalnya 19 Februari, lantas Lebaran ikut yang harinya lebih dahulu, maka ada risiko yang Lebaran lebih awal tersebut puasanya 29 hari. Hasilnya, kita mungkin hanya berpuasa selama 28 hari, atau tidak satu bulan penuh.

Dengan begitu, apabila sudah memilih awal puasa pada 18 Februari, yang berarti mengikuti Muhammadiyah dengan metode hisab dan PKG, maka harus melanjutkan hingga akhir, mengikuti kapan 1 Syawal 1447 Hijriah, menurut Muhammadiyah. Begitu pula sebaliknya bagi yang mengikuti pemerintah atau NU.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terkait perbedaan awal puasa Ramadhan 2026, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Iskandar, mengungkapkan, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan adalah hal wajar. Perbedaan itu masuk ranah ijtihad yang bersifat teknis, bukan menyangkut prinsip akidah.

“Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi. Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati,” ungkapnya, seperti dikutip laman resmi Kemenag.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian

Mendagri Tegaskan Reforma Agraria untuk Kepentingan Rakyat

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan reforma agraria harus diarahkan untuk mewujudkan keadilan dan memastikan pengelolaan tanah rakyat.

img_title
VIVA.co.id
15 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut