Nyamuk Ini bikin Donald Trump Kewalahan

Ilustrasi Donald Trump dan blokade AS terhadap Iran.
Sumber :
  • AI-Chatgpt

Jakarta, VIVA - Iran tidak habis akal dalam mengadang Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Teheran menerapkan strategi perang yang begitu lincah sehingga membuat Washington keteteran. Tapi, hal tersebut dibantah Donald Trump.

img_title Iran-AS Belum Resmi Berdamai, Harga Minyak Dunia Sehari Jatuh Terendah Dalam Tiga Bulan Terakhir

Presiden AS itu mengklaim 'telah sepenuhnya menghancurkan' Angkatan Laut Iran dan hanya menyisakan 'perahu-perahu kecil dengan senapan mesin di atasnya'.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, perahu-perahu kecil ini — yang dijuluki armada nyamuk oleh sebagian analis negara-negara Barat — memiliki daya sengat. Selama berbulan-bulan mereka membantu militer Iran menyebabkan gangguan serius di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

img_title Harga Minyak Dunia Bangkit usai Laporan Serangan AS ke Iran, Brent Tembus US$105

Upaya tersebut, menurut para ahli, dimaksudkan untuk merugikan ekonomi global dan menekan Washington agar tidak lagi berperang dengan Teheran.

Apa itu armada nyamuk? Mengutip situs BBC, Selasa, 19 Mei 2026, adalah armada perahu serang yang kecil dan cepat ini dibentuk oleh militer Iran pada 1980-an selama Perang Iran-Irak.

img_title Ledakan Terdengar di Iran saat Negosiasi dengan AS Berlangsung, Apa yang Terjadi di Selat Hormuz?

Meskipun hanya dua negara yang berperang, pertempuran meluas ke Teluk Persia selama 'Perang Tanker' pada 1980-an. AS, yang ingin melindungi pengiriman minyak, terseret ke dalam pertempuran tersebut.

Bentrok dengan Angkatan Laut AS membuat armada kapal perang konvensional Iran mengalami pukulan besar. Armada perahu kecil Iran kemudian menjadi bagian dari doktrin perang yang dirancang untuk menghadapi angkatan laut yang lebih unggul.

Armada perahu kecil merupakan salah satu bagian dari strategi Iran yang lebih luas, yang juga mencakup rudal, drone, ranjau, peluncur pantai, dan serangan dari proksi di negara-negara tetangga.

Dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), armada ini tidak dirancang untuk pertempuran konvensional di laut, tapi untuk mengganggu, mengerubung, membingungkan, dan mengacaukan pelayaran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"IRGC mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengalahkan Amerika Serikat dalam perang laut konvensional," kata Saeid Golkar, profesor madya di University of Tennessee di Chattanooga dan penasihat senior di United Against Nuclear Iran (UANI).

Karena itu, lanjut dia, Teheran menargetkan kapal tanker komersial dan menjadikan Selat Hormuz sebagai tempat yang lebih berbahaya untuk beroperasi. Hal ini tentu meningkatkan biaya dan risiko bagi perusahaan yang melintasi Teluk.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut