Hacker Menyukai Korban yang Melakukan Ini
- Freepik
Jakarta, VIVA – Di era digital yang semakin terhubung, ancaman peretasan tidak lagi hanya mengincar perusahaan besar atau lembaga pemerintahan. Faktanya, sebagian besar serangan siber justru menargetkan pengguna biasa yang tanpa sadar melakukan kebiasaan-kebiasaan berisiko.
Para pakar keamanan siber menyebut bahwa hacker cenderung menyukai korban yang memiliki pola keamanan lemah. Bukan karena mereka menjadi target khusus, melainkan karena akun mereka jauh lebih mudah dibobol dibanding pengguna lain.
Ilustrasi hacker.
- Getty Images
Berikut VIVA rangkum Jum'at, 19 Juni 2026, ada beberapa hacker menyukai korban yang sering melakukan ini!
1. Menggunakan Password yang Sama di Banyak Akun
Salah satu kebiasaan yang paling disukai hacker adalah penggunaan password yang sama untuk berbagai layanan.
Banyak orang menggunakan satu kata sandi untuk email, media sosial, marketplace, hingga layanan perbankan digital. Ketika satu layanan mengalami kebocoran data, hacker dapat mencoba kombinasi email dan password tersebut ke berbagai platform lain melalui metode yang dikenal sebagai credential stuffing.
Penelitian terhadap jutaan akun menunjukkan bahwa penggunaan ulang password masih menjadi masalah besar. Bahkan studi terbaru menemukan sebagian besar password yang bocor merupakan password yang digunakan berulang kali pada banyak akun berbeda.
2. Sering Mengklik Link yang Tidak Jelas
Hacker juga menyukai korban yang mudah tergoda oleh tautan mencurigakan.
Metode phishing masih menjadi salah satu teknik paling efektif untuk mencuri akun. Pelaku biasanya mengirim email, pesan WhatsApp, atau SMS yang tampak resmi dan meminta korban memasukkan data login pada halaman palsu. Setelah korban mengetik username dan password, informasi tersebut langsung jatuh ke tangan pelaku.
Belakangan ini, berbagai kampanye phishing bahkan menggunakan situs yang terlihat sangat meyakinkan sehingga sulit dibedakan dari halaman resmi.
3. Mengabaikan Verifikasi Dua Langkah
Banyak pengguna masih mengandalkan password sebagai satu-satunya lapisan keamanan. Padahal, password saja sering kali tidak cukup.
Pakar keamanan menyarankan penggunaan Multi-Factor Authentication (MFA) atau verifikasi dua langkah karena dapat memberikan lapisan perlindungan tambahan jika password berhasil dicuri. Akun tanpa MFA jauh lebih menarik bagi pelaku kejahatan siber karena proses pengambilalihannya menjadi lebih mudah.
4. Memakai Password yang Mudah Ditebak
Ilustrasi password.
- U-Report
Password seperti "123456", "password", tanggal lahir, atau nama sendiri masih menjadi favorit banyak pengguna internet. Sayangnya, kombinasi seperti ini juga menjadi favorit hacker.
Serangan brute force dan penggunaan daftar password populer memungkinkan pelaku menebak kata sandi yang lemah dalam waktu sangat singkat. Semakin sederhana password yang digunakan, semakin besar peluang akun berhasil diretas.
Laporan Cybernews bahkan menemukan miliaran password yang bocor masih didominasi kombinasi sederhana dan mudah ditebak.
5. Tidak Peduli dengan Kebocoran Data
Banyak orang menganggap remeh ketika mendengar ada kebocoran data dari sebuah layanan online. Padahal, informasi yang bocor sering kali diperjualbelikan di forum kriminal dan digunakan untuk menyerang akun lain yang memakai password serupa.
Komunitas keamanan siber di berbagai forum juga terus mengingatkan bahwa sebagian besar pembajakan akun modern berasal dari kredensial yang telah bocor sebelumnya, bukan karena hacker menebak akun secara manual satu per satu.
Ilustrasi hacker.
- U-Report
Pada akhirnya, hacker tidak selalu mencari korban yang kaya atau terkenal. Mereka lebih menyukai korban yang lalai dalam menjaga keamanan digitalnya. Kebiasaan sederhana seperti menggunakan password yang sama, mengabaikan MFA, atau sembarangan mengklik tautan bisa menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk mengambil alih akun dan mencuri data penting.