Ketika AI Bekerja 24 Jam Tanpa Lelah, Apa yang Akan Terjadi pada Pekerjaan Manusia?
- Freepik
Ilustrasi profesi akuntan.
- U-Report
Sejarah teknologi menunjukkan bahwa ketika satu jenis pekerjaan menghilang, pekerjaan baru biasanya akan muncul.
Saat ini dunia mulai melihat meningkatnya kebutuhan terhadap profesi seperti AI Trainer, Prompt Engineer, AI Auditor, AI Ethics Specialist, hingga pengembang sistem otomatisasi. Banyak perusahaan juga membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengawasi hasil kerja AI agar tetap akurat dan aman.
Ironisnya, semakin banyak AI digunakan, semakin besar pula kebutuhan manusia untuk memastikan teknologi tersebut tidak melakukan kesalahan.
Lahirnya Fenomena “Botsitting”
Salah satu fenomena baru yang muncul adalah istilah botsitting, yaitu aktivitas mengawasi dan memeriksa hasil kerja AI.
Sebuah studi terbaru menunjukkan banyak pekerja masih harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek, memperbaiki, dan memvalidasi hasil yang dibuat AI. Bahkan sebagian besar pengguna AI mengaku pernah memperbaiki hasil kerja AI dalam beberapa minggu terakhir.
Fakta ini menunjukkan bahwa AI belum mampu bekerja sepenuhnya tanpa pengawasan manusia.
Pekerjaan Pemula Bisa Menjadi Korban Pertama
Sejumlah ekonom memperingatkan bahwa posisi entry-level berpotensi menjadi kelompok yang paling terdampak.
Banyak tugas dasar yang biasanya menjadi pintu masuk bagi lulusan baru kini mulai dapat dilakukan oleh AI. IMF memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan global akan mengalami dampak AI, sementara di negara maju angka tersebut bisa mencapai sekitar 60 persen. Kekhawatiran terbesar adalah berkurangnya kesempatan bagi generasi muda untuk memperoleh pengalaman kerja awal.
Inilah alasan mengapa banyak ahli mendorong sistem pendidikan untuk lebih fokus pada keterampilan yang sulit digantikan mesin.
Skill Manusia yang Akan Semakin Berharga
Ketika AI mengambil alih pekerjaan teknis dan rutin, nilai keterampilan manusia justru meningkat.
Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, negosiasi, empati, komunikasi, dan pemecahan masalah kompleks diperkirakan menjadi aset paling berharga di era AI. Teknologi dapat membantu menghasilkan jawaban, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan tujuan, memahami konteks, dan mengambil keputusan strategis.
Ilustrasi digital.
- Freepik
Masa Depan Dunia Kerja Tidak Akan Sama
Banyak orang membayangkan AI akan menciptakan dunia tanpa pekerjaan manusia. Namun berbagai penelitian terbaru menunjukkan masa depan yang lebih kompleks.