Data Pribadi Kini Lebih Berharga daripada Uang

Ilustrasi uang
Sumber :
  • VIVA Banyuwangi

VIVA – Di era digital, dompet yang hilang memang bisa diganti. Namun, ketika data pribadi bocor, kerugiannya bisa berlangsung bertahun-tahun. Mulai dari pencurian identitas, pembobolan rekening, hingga penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI), semuanya berawal dari informasi pribadi yang jatuh ke tangan yang salah.

img_title Berantas Kejahatan, Polda Sumsel Ungkap Ratusan Kasus 3C dan Premanisme dalam 8 Hari Operasi Sikat Musi 2

Ilustrasi data pribadi.

Photo :
  • Instagram/@accumepartners

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak heran jika banyak pakar keamanan siber kini menilai bahwa data pribadi telah menjadi aset yang nilainya melebihi uang tunai. Bagi perusahaan teknologi, lembaga keuangan, hingga pelaku kejahatan siber, data pribadi memiliki nilai ekonomi yang terus meningkat karena dapat digunakan untuk memahami, memprediksi, bahkan memengaruhi perilaku seseorang.

img_title Dua ASN Pajak Diperiksa KPK, Uang Rp1 Miliar Lebih dan USD49 Ribu Ikut Disita

Mengapa Data Pribadi Sangat Berharga?

Berbeda dengan uang yang nilainya tetap, data pribadi dapat digunakan berulang kali tanpa menghilangkan kepemilikannya. Informasi seperti nama, nomor telepon, alamat, lokasi, riwayat pencarian, kebiasaan belanja, hingga preferensi media sosial dapat dikombinasikan menjadi profil digital yang sangat rinci.

img_title Tim DVI Tak Libur Sabtu-Minggu Demi Kebut Identifikasi Korban KM Virgo

Menurut World Economic Forum (WEF), dikutip VIVA Jum'at, 26 Juni 2026, nilai sebenarnya dari data tidak terletak pada satu informasi saja, melainkan pada kemampuan menggabungkan ribuan potongan data menjadi wawasan yang dapat dimanfaatkan untuk bisnis, pemasaran, maupun pengembangan teknologi AI.

Karena itu, perusahaan digital rela menginvestasikan miliaran dolar untuk mengumpulkan dan mengolah data pengguna.

Bahan Bakar Ekonomi Digital

Selama bertahun-tahun, para ekonom menyebut minyak sebagai sumber daya paling berharga di dunia. Kini, banyak analis berpendapat bahwa posisi tersebut telah digantikan oleh data.

Data menjadi fondasi berbagai layanan digital, mulai dari mesin pencari, media sosial, layanan streaming, toko online, hingga aplikasi navigasi. Semakin lengkap data yang dimiliki perusahaan, semakin akurat mereka dapat menampilkan iklan, memberikan rekomendasi produk, atau melatih model kecerdasan buatan.

Bahkan, The Economist pernah menyebut data sebagai "minyak baru" (the new oil), sebuah pandangan yang juga dibahas oleh World Economic Forum dalam sejumlah publikasinya mengenai ekonomi digital.

Kebocoran Data Bisa Lebih Merugikan daripada Kehilangan Uang

Ilustrasi kebocoran data.

Photo :
  • Pixabay/blickpixel

Jika uang di dompet hilang, jumlah kerugiannya biasanya terbatas. Sebaliknya, ketika data pribadi bocor, dampaknya bisa jauh lebih luas. Penjahat siber dapat menggunakan informasi tersebut untuk:

  • Mencuri identitas korban.
  • Membobol akun digital.
  • Mengajukan pinjaman atas nama korban.
  • Menyusun serangan phishing yang lebih meyakinkan.
  • Menjual data di forum ilegal kepada pihak lain.

Lebih berbahaya lagi, data yang sudah bocor hampir tidak mungkin ditarik kembali karena dapat disalin dan diperjualbelikan berkali-kali.

AI Membuat Nilai Data Semakin Tinggi

Model AI membutuhkan data dalam jumlah besar agar mampu mengenali pola, memahami bahasa, hingga menghasilkan prediksi yang akurat. Semakin berkualitas data yang tersedia, semakin baik pula kemampuan sistem AI.

Inilah sebabnya perusahaan berlomba-lomba mengumpulkan data pengguna secara legal melalui persetujuan layanan maupun aktivitas digital sehari-hari.

Mengapa Banyak Orang Masih Mengabaikan Privasi?

Ironisnya, meski data memiliki nilai ekonomi tinggi, banyak pengguna internet masih menganggapnya tidak terlalu penting.

Fenomena ini dikenal sebagai privacy paradox, yaitu kondisi ketika seseorang mengaku peduli terhadap privasi tetapi tetap memberikan akses data kepada berbagai aplikasi tanpa mempertimbangkan risikonya.

Menurut World Economic Forum, salah satu penyebabnya adalah karena data bersifat tidak berwujud sehingga orang sulit menyadari nilai sebenarnya dibandingkan aset fisik seperti uang atau kendaraan.

Cara Melindungi Aset Digital

Para pakar keamanan siber menyarankan masyarakat mulai memperlakukan data pribadi layaknya aset berharga. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda di setiap akun.
  • Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA).
  • Hindari membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial.
  • Periksa izin aplikasi sebelum menginstalnya.
  • Rutin memperbarui sistem operasi dan aplikasi.
  • Waspadai tautan atau pesan mencurigakan yang meminta data pribadi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ilustrasi Uang

Photo :
  • pexels.com

Di dunia digital saat ini, uang bukan lagi satu-satunya aset yang harus dijaga. Data pribadi memiliki nilai ekonomi yang sangat besar karena dapat dimanfaatkan untuk bisnis, pengembangan AI, hingga menjadi sasaran kejahatan siber. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan secara online, semakin tinggi pula nilai identitas digital seseorang.

Kegiatan konferensi pers pengungkapan kasus narkoba dalam Operasi Nila Jaya 2026 yang digelar di Mapolres Metro Jakpus

Geger! 122 Tersangka Narkoba Ditangkap di Jakpus, Barang Buktinya Bikin Melongo

Peredaran narkotika di Jakarta Pusat dibongkar polisi melalui Operasi Nila Jaya 2026. Dalam operasi yang digelar selama (9-23/9/26) itu, 122 tersangka ditangkap.

img_title
VIVA.co.id
2 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut