Jepang Turunkan AI, Garong Skema Ponzi Bakal Dilibas Sebelum Cari Mangsa

Ilustrasi bendera Jepang.
Sumber :
  • REUTERS/Kim Kyung-Hoon/File Photo

VIVA - Badan Urusan Konsumen Jepang akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis keluhan yang masuk ke pusat-pusat layanan konsumen di seluruh negeri, guna mendeteksi skema penipuan penjualan lebih dini dan meminimalkan kerugian masyarakat.

img_title Fisik Mini, Performa Mumpuni

Badan tersebut bertujuan mengidentifikasi muslihat, seperti skema ponzi, di mana pelaku mengalihkan dana dari investor baru untuk pembayaran tanpa benar-benar menginvestasikan uang tersebut. Selain itu, badan itu juga akan berbagi informasi dengan kepolisian serta lembaga keuangan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Badan tersebut juga akan memanfaatkan Genai, platform AI yang dikembangkan Pemerintah Jepang, dengan memasukkan frasa-frasa ajakan yang digunakan dalam berbagai kasus penipuan investasi berskala besar di masa lalu, seperti dikutip dari Kyodo, Selasa, 1 September 2026.

img_title Pesatnya Perkembangan AI dan Disrupsi Teknologi Jadi Tantangan Bagi Moral dan Kedamaian Global

Kemudian, lembaga itu menelaah konsultasi baru untuk mengidentifikasi metode-metode baru yang mulai muncul. Selama ini, badan tersebut baru menyelidiki perusahaan-perusahaan setelah jumlah pengaduan mencapai batas tertentu, lalu mempertimbangkan untuk memberikan peringatan atau sanksi berdasarkan Undang-Undang Keselamatan Konsumen.

Skema Ponzi sering lolos dari deteksi dini, karena awalnya penyelenggara membayar imbal hasil dan menawarkan pembatalan atau cenderung menyetujui pembatalan maupun pengembalian dana begitu keluhan muncul.

img_title Pindah Tugas dari Tablet ke Laptop Tak Lagi Ribet

Akibatnya, saat jumlah keluhan sudah cukup banyak terkumpul, total kerugian sering kali telah membengkak drastis. Jenis produk yang digunakan dalam penipuan investasi juga menjadi semakin beragam dan kompleks, mencakup instrumen keuangan, investasi real estat, dan penitipan perangkat elektronik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sehingga, pihak berwenang semakin kesulitan memahami sifat sebenarnya dari bisnis-bisnis tersebut. Di tengah tren itu, badan tersebut akan mengubah pendekatannya dengan segera memublikasikan metode bujukan yang khas serta berbagi informasi dengan pihak berwenang terkait, termasuk kepolisian, bahkan ketika nama bisnis yang terlibat belum dapat diungkapkan ke publik.

Meskipun informasi tersebut telah dipublikasikan, badan tersebut menyatakan akan tetap mempertimbangkan untuk mengeluarkan peringatan yang menyebutkan nama bisnis tertentu serta mengambil tindakan administratif.

Agora.

Indonesia Diproyeksikan Jadi Salah Satu Pasar Perangkat Pintar dengan Pertumbuhan yang Menjanjikan di Asia Tenggara

Pasar smart home Indonesia diproyeksikan meningkat dari US$1,81 miliar pada 2024 menjadi US$8,12 miliar pada 2030. Pertumbuhan ini juga tercermin pada pasar IoT.

img_title
VIVA.co.id
7 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut