Mengenal Proxy War
- manilatimes.net
"Innocent proxy ini orang yang tak tahu menahu kalau dia dimanfaatkan untuk kepentingan dia (pemilik kepentingan)," kata pria berkaca mata tersebut.Â
Dia mencontohkan, salah satu bentuk proxy adalah yang dilakukan Amerika Serikat untuk mencapai keinginannya dalam perang dunia Arab dan Israel.Â
Demi mewujudkan kepentinganya di Timur Tengah, menurutnya, AS menciptakan proxy-proxy, yakni Hizbullah, ISIS sampai Al Qaeda.Â
"Mereka (pemerintah AS) membikin ini (ISIS, Al Qaeda) dan mereka memang mengakuinya tak pernah membantahnya," kata dia.Â
AS membuat proxy, jelas Yono, karena didorong Vietnam Syndrom. Dalam perang Vietnam melawan Uni Soviet, negeri Paman Sam itu memang kalah, babak belur dihantam Uni Soviet.Â
Belajar dari kekalahan itu, AS mencatatkan momen itu sebagai pelajaran dan dicatat dalam dokumen negara, agar tidak masuk lagi perang. Sebabnya, jika AS terjun langsung dalam perang, maka bakal ada warga negara yang meninggal.Â
Proxy war Indonesia
Yono mengatakan proxy war, merupakan salah satu bentuk penerjemahan teori seni berperang dari ahli militer Tiongkok, Sun Tzu yang ditulis sekitar abad ke-6
Dalam pemikirannya, Sun Tzu mengatakan perang yaitu pertama, mengalahkan lawan tanpa bertempur atau tanpa mengeluarkan tenaga. Kedua, berperang tanpa memakai senjata tapi menang. Ketiga, menangkan kendali, pikiran dan hati orang.Â
"Kini dengan hoax dapat mengendalikan pikiran orang. Orang enggak tahu (sahih atau tidak informasi yang diterima) tapi kemudian disebar hingga membentuk sebuah koloni. Ini menjalankan teori Sun Tzu," jelas dia.Â
Pada era media sosial, pola proxy war menurutnya sama saja dengan pola proxy war yang sudah berjalan di atas. "Bedanya adalah dia pakai media sosial. Intinya di sini adalah perang informasi," kata Yono.Â
Untuk konteks Indonesia, Yono berpandangan, sangat rentan masyarakat Indonesia bisa terseret dalam proxy war yang diciptakan pihak tertentu. Bahkan dia mengatakan masyarakat Tanah Air cenderung bisa masuk dalam kategori innocent proxy.Â
Kecenderungan itu karena faktor tingkat pengetahuan sebagian masyarakat Indonesia belum begitu cerdas.Â
"Kemungkinan hal ini bisa saja terjadi karena hal itu tergantung dengan tingkat pendidikan dalam hal ini pengetahuan ya, bukan strata pendidikan. Orang gampang terpengaruh dan belum begitu bagaimana untuk menganalisis informasi," kata dia. (ase)