AI Bikin Minecraft Versi X dengan Multiplayer
- YouTube/wattles
Jakarta, VIVA – Dunia game kembali diramaikan oleh eksperimen kecerdasan buatan (AI). Kali ini, seorang pengembang menggunakan AI untuk membuat game bergaya Minecraft yang bisa dimainkan melalui tautan di X, platform yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.
Proyek bernama Tweetcraft tersebut menarik perhatian karena memungkinkan sejumlah pemain memasuki dunia permainan yang sama sekaligus menawarkan ruang sponsor berbayar menggunakan mata uang kripto.
Laporan IGN, dikutip VIVA Kamis, (15/10/2026), menyebut proyek ini sebagai bagian dari gelombang baru pembuatan tiruan game populer dengan bantuan AI. Daya tariknya bukan hanya tampilan permainan berbentuk blok yang mengingatkan pada Minecraft, tetapi juga cara membagikan dunia permainan melalui unggahan media sosial.
Meski disebut bisa dimainkan melalui X, ada hal penting yang perlu dipahami. Tweetcraft bukanlah game Minecraft resmi yang berjalan langsung di dalam sistem X. Permainan ini merupakan game berbasis browser yang diakses melalui tautan yang dibagikan di platform tersebut.
Cara Kerja Tweetcraft, Main Bareng Lewat Tautan
Konsep Tweetcraft terbilang sederhana. Pengguna membuat atau membagikan sebuah dunia permainan, kemudian memperoleh tautan khusus yang dapat dipublikasikan di X. Orang lain yang membuka tautan tersebut dilaporkan dapat bergabung ke sesi permainan yang sama secara real-time.
Pendekatan ini membuat pengalaman bermain bersama lebih mudah dibagikan. Pengguna tidak harus memulai dengan mengunduh klien game seperti pada permainan PC konvensional. Tautan menjadi pintu masuk menuju dunia virtual yang dapat dikunjungi pemain lain melalui browser.
Tweetcraft dikembangkan oleh pengguna X dengan nama jaivin. Menurut laporan yang mengutip keterangan proyek tersebut, kreatornya mengklaim bahwa permainan ini tidak menggunakan aset Minecraft dan tidak berafiliasi dengan Mojang Studios maupun Microsoft. Namun, tampilan serta konsepnya tetap sangat mengingatkan pada game sandbox populer tersebut.
Detail mengenai perangkat AI yang digunakan, seberapa besar peran AI dalam penulisan kode, serta kemampuan teknis proyek tersebut belum dijelaskan secara lengkap dalam laporan yang tersedia. Karena itu, keberhasilan proyek ini tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai bukti bahwa AI dapat membuat seluruh game kompleks secara otomatis tanpa campur tangan manusia.
Sponsor Dibayar dengan Mata Uang Kripto
Hal lain yang membuat Tweetcraft menarik perhatian adalah upaya monetisasinya. Kreator proyek tersebut menawarkan sejumlah tempat untuk memasang sponsor dengan pembayaran menggunakan mata uang kripto.
Berdasarkan keterangan yang dikutip dalam laporan, ada beberapa opsi promosi yang ditawarkan, mulai dari penempatan iklan di bagian atas daftar server, papan peringkat sponsor pada dunia tertentu, hingga logo pada karakter bernama Block Dragon.
Model tersebut memperlihatkan bagaimana proyek game eksperimental dapat mencoba menghasilkan uang dari popularitas di internet. Ketika pemain membagikan tautan dan mengajak teman bergabung, jangkauan proyek berpotensi meningkat. Sponsor kemudian bisa memanfaatkan perhatian pemain untuk mempromosikan merek mereka.
Meski demikian, perlu dibedakan antara penawaran sponsor dan transaksi yang sudah terverifikasi. Informasi yang tersedia menjelaskan adanya penawaran ruang promosi, tetapi tidak memberikan bukti independen yang memastikan seluruh penawaran tersebut telah menghasilkan transaksi.
Mengapa Proyek Ini Memunculkan Perdebatan?
Popularitas Tweetcraft juga membawa pertanyaan mengenai hak cipta dan merek dagang. Minecraft merupakan properti intelektual milik Microsoft melalui Mojang Studios. Walaupun kreatornya menyatakan tidak menggunakan aset resmi Minecraft, kemiripan visual dan konsep tetap dapat memunculkan pertanyaan hukum.
Penggunaan AI tidak otomatis membuat sebuah karya bebas dari aturan hak cipta atau merek dagang. Penilaian terhadap suatu proyek bergantung pada berbagai faktor, termasuk materi yang digunakan, tingkat kemiripan, serta ketentuan hukum yang berlaku.
Hingga informasi yang dirujuk dalam laporan tersebut, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa pengadilan telah memutuskan status hukum Tweetcraft. Karena itu, kemungkinan adanya tindakan dari pemilik hak kekayaan intelektual perlu dipahami sebagai risiko, bukan keputusan hukum yang sudah terjadi.
Kasus ini juga memperlihatkan tantangan baru bagi industri game. Pengembang dapat membuat prototipe yang menyerupai permainan terkenal dengan lebih cepat, sementara pemilik hak harus menentukan cara menangani proyek-proyek yang menyebar melalui internet.
Bukan Satu-satunya Game Tiruan Berbasis AI
Tweetcraft muncul di tengah tren eksperimen yang membuat game populer dapat dimainkan melalui browser. Laporan IGN juga menyinggung kemunculan proyek berbasis browser yang meniru atau menghadirkan pengalaman dari game lain, termasuk GTA 5 dan Fallout: New York. Beberapa proyek tersebut dilaporkan menghadapi penghapusan konten.
Fenomena ini memperlihatkan dua sisi perkembangan AI. Di satu sisi, teknologi tersebut bisa membantu pengembang bereksperimen dengan ide permainan dan membuat prototipe lebih cepat. Di sisi lain, kemudahan membuat tiruan meningkatkan kebutuhan untuk memperhatikan hak kekayaan intelektual, keamanan pengguna, serta cara proyek menghasilkan pendapatan.
Apa Artinya bagi Gamer Indonesia?
Bagi gamer Indonesia, Tweetcraft menjadi contoh bagaimana pengalaman bermain berbasis browser dan distribusi melalui media sosial dapat berkembang. Konsep berbagi tautan untuk memasuki dunia permainan bersama juga menunjukkan bahwa pengalaman multiplayer tidak selalu harus dimulai dari aplikasi yang diunduh.
Namun, pemain sebaiknya tetap berhati-hati ketika membuka tautan game yang belum dikenal. Jangan memasukkan kata sandi akun lain, memberikan informasi sensitif, atau menghubungkan dompet kripto tanpa memahami risiko dan identitas pengelolanya. Keamanan serta moderasi komunitas Tweetcraft juga belum dapat dipastikan hanya dari laporan yang tersedia.
Pada akhirnya, Tweetcraft bukan sekadar eksperimen membuat game mirip Minecraft. Proyek ini menggambarkan bagaimana AI, media sosial, multiplayer berbasis browser, dan monetisasi kripto mulai bertemu dalam satu pengalaman. Apakah model seperti ini bisa bertahan dalam jangka panjang masih menjadi pertanyaan, terutama jika popularitasnya terus meningkat dan persoalan hak kekayaan intelektual ikut mengemuka.