Hari Batik Nasional, Para Pengrajin Menjerit Sepi Order

Karya Pengerajin Batik Tulis Celaket (BTC) Kota Malang
Sumber :
  • VIVA/ Lucky Aditya/ Malang

VIVA – Pengerajin Batik Tulis Celaket (BTC) Kota Malang menjerit karena penjualan mereka turun drastis di tengah pandemi COVID-19. Di hari Batik Nasional mereka mencatatkan nol order alias tidak ada penjualan sama sekali. Situasi ini dialami sejak 7 bulan terakhir. 

img_title Menjaga Warisan Budaya, Batik Lokal Didorong Lebih Kreatif dan Adaptif

"Januari hingga Maret 0,1 persen saja penjualan itu belum pandemi tapi dampakmya mulai terasa. Di 7 bulan terakhir bahkan 0 persen penjualannya. Karena batik ini kan turunan dari pariwisata, kalau wisata tutup atau lesu otomatis berdampak pada batik," kata Pemilik Batik Tulis Celaket, Hanan Abdul Jalil, Jumat, 2 Oktober 2020. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Baca Juga: Mengenal 5 Motif Batik Indonesia, Mega Mendung Sampai Papua

img_title Puspa Nuswantara 2026, BNI Bawa Mitra UMKM Binaan Batik Nasional

Batik Tulis Celaket berdiri sejak tahun 1997. Daerah Celaket, atau Jalan Jaksa Agung Suprapto, Klojen, Kota Malang merupakan sentra pengerajin batik. Di Batik Tulis Celaket setidaknya ada 20 pengerajin batik yang terlibat dalam produksi. Semuanya merupakan warga Celaket. Dalam kondisi sulit seperti ini, mereka tetap memproduksi batik meski tanpa penjualan. 

"Di kami ada 20 karyawan sejak puluhan tahun, kebanyakan tetangga. Kebetukan Celaket ini sentra batik di Malang. Strategi sementara online, karena pembeli juga tidak ada mereka lebih memilih beli beras ketimbang beli baju. Daya beli masyarakat juga tidak ada," ujar Hanan Jalil. 

img_title Puspa Nuswantara 2026, BNI Dukung UMKM Batik Nasional

Hanan Jalil mengatakan, dalam kondisi pandemi COVID-19 seperti saat ini tidak ada yang perlu disalahkan. Para pengerajin batik hanya meminta perhatian pemerintah agar tidak bangkrut karena penjualan yang terus diangka 0 persen. Perhatian yang diharapkan adalah membuat kebijakan belanja daerah untuk membeli batik karya pengerajin lokal. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Memang tidak ada yang bisa disalahkan, tapi kalau bisa pemerintah itu punya kebijakan belanja daerah itu harus dibelanjakan ke daerah. Untuk Kota Malang, misalkan disini ada 5 produsen batik ya beli saja disitu agar ekonomi bergerak. Karena produsen dan toko itu punya karyawan yang dinantikan oleh keluarganya untuk pulang membawa gaji," tutur Hanan Jalil. 

Hanan Jalil mengungkapkan, harapan di Hari Batik Nasional agar bisnis batik tetap eksis adalah bantuan modal usaha. Menurutnya, bantuan yang palinh dibutuhkan pengerajin batik bukanlah bantuan sosial melainkan bantuan pinjaman modal usaha demi menjalankan roda bisnis mereka. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut