Ekspresi Material Ekspos pada Seni Arsitektur
- the architectural review
Andy juga mengatakan, pembangunan karya arsitektur juga harus memperhatikan perawatannya, karena mayoritas desain bangunan saat ini menghabiskan banyak dana untuk perawatan bangunan dalam jangka panjang.
Dengan penerapan material unfinished dapat menghemat biaya maintenance sebab dalam waktu yang akan datang tidak perlu dilakukan pengecatan ulang. Material bata atau roster cukup dibersihkan debunya saja.
“Salah satu cara mengurangi biaya perawatan adalah menggunakan material ekspos, karena dia natural semakin natural semakin dekat dengan alam semakin blending dan eksotik. Itu harusnya jadi mindset kita jangan selalu berfikir harus baru, kinclong atau bersih,” kata Andy Rahman.
Andy Rahman sendiri mulai gemar menggunakan material ekspos sejak tahun 2014, sebelumnya ia banyak membangun hunian dengan konsep minimalis, kemudian ia putar haluan dan lebih banyak mengembangkan hunian dengan material ekspos, dirinya menyebut gaya arsitektur yang ia jalankan adalah lokal, global, hybrid yakni pengembangan arsitektur Nusantara dengan tidak menutup perkembangan zaman atau global, sehingga desain yang ia miliki tetap modern dan kontemporer meskipun menggunakan material lama.
Perpaduan antara teknologi dan kelokalan ini ternyata juga sejalan dengan produk Demix.
Menurut Fitria Novita, Host Demix Talkshow yang juga merangkap sebagai President Director PT Demix Sarana Industri Indonesia, produk-produk yang dihasilkan Demix saat ini mengadopsi teknologi terkini yang dapat digunakan dengan mudah oleh tukang-tukang lokal yang ada di Indonesia.
“Logo Demix juga terinspirasi dengan tatanan Candi Borobudur, kebanggan kita sebagai orang lokal, tapi kemudian kita juga mau mengedukasi supaya bagaimana tukang-tukang mau menggunakan material yang memiliki teknologi sehingga dapat menghasilkan bangunan yang lebih baik,” ujar Fitria.
Sementara menurut David AL, penikmat arsitektur, dari waktu ke waktu arsitektur selalu berevolusi. Indonesia sendiri memiliki ciri khas arsitektur yang akan selalu tetap relevan dan timeless digunakan karena selalu memperhatikan kondisi alam sekitar.
Berbeda dengan gaya arsitektur dari luar negeri yang belum tentu bisa diaplikasikan di Indonesia.

“Arsitektur di luar negeri dapat digunakan di Indonesia, namun harus ada beberapa hal yang diperhatikan salah satunya adalah musim, karena di luar negeri memiliki empat musim dan di Indonesia memiliki 2 musim, sehingga arsitektur yang akan digunakan harus menyesuaikan dengan musim di negaranya sendiri,” ujar David.