Bule Ini Kenal Islam dan Jadi Mualaf Usai Ditolak Dansa

Seorang insinyur sukses, Bob Palmer menjadi mualaf usai ditolak dansa
Seorang insinyur sukses, Bob Palmer menjadi mualaf usai ditolak dansa
Sumber :
  • Tanggapan layar video YouTube

VIVA – Menjadi Mualaf bukan hal yang mudah bagi seorang insinyur sukses bernama Bob Palmer. Ia baru menemukan kebenaran di usianya yang beranjak dewasa saat dekat dengan seorang Muslimah.

Pemuda Insinyur teknik mesin universitas georgia bernama Bob Palmer asal Atlanta Amerika masuk Islam jadi Mualaf lantaran dirinya berteman dekat dengan muslimah. Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas, dia tidak mengetahui kalau temannya itu Muslim. 

"Saya selalu merasa ada yang salah dengan pergi ke pesta dan minum-minum seperti sesuatu terasa salah bagi saya. Sampai di SMA saya masih belum tahu apa-apa tentang Islam," ujarnya dalam kanal YouTube Renung Kalbu.

Bob juga menyebut bahwa ia tak merasa membutuhkan mencari tahu agama lain selain Kristen. Sebab, Bob sendiri pada dasarnya tumbuh sebagai seorang Nasrani dengan keluarga yang taat dengan ajaran Kristen.

"Saya tumbuh dewasa, saya tumbuh dalam keluarga Kristen tapi saya mengatakan itu dengan ragu-ragu karena keluarga saya benar-benar yang percaya pada tuhan, tetapi tidak terlalu religius. Sebagai seorang anak saya biasa pergi ke gereja dan saya adalah seorang metodis, tetapi saya benar-benar menikmati berada di sekitar orang-orang di sana tapi bukan karena agamanya, lebih pada persahabatannya," tutur Bob.

Lebih dalam saat Bob berteman dekat dengan seorang muslimah di bangku SMA, ia merasa ada hal yang kerap membuat temannya itu tak nyaman. Awalnya, Bob mengira itu perkara perbedaan budaya hingga akhirnya teman Muslimahnya itu menolak untuk diajak berdansa.

Seorang insinyur sukses, Bob Palmer menjadi mualaf usai ditolak dansa

Seorang insinyur sukses, Bob Palmer menjadi mualaf usai ditolak dansa

Photo :
  • Tanggapan layar video YouTube

"Saya pikir itu ada hubungannya dengan budaya. Dan dia tidak mau dekat denganku lagi. Itu membuat saya berpikir dan bertanya, apakah itu karena budaya? Karena ras? Dan untuk pertama kalinya saya bertanya, apa itu islam? Saya tidak pernah tahu apa-apa tentang hal itu," terangnya.