Anak Muda Diimbau Terlibat Pengurangan Risiko Bencana

Ilustrasi Aplikasi Bencana
Ilustrasi Aplikasi Bencana
Sumber :
  • vstory

VIVA – Pemerintah Indonesia terus menekankan pada upaya membangun kolaborasi untuk resiliensi berkelanjutan sebagai salah satu topik pembahasan dalam Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR). Hal itu mengingat pentingnya perencanaan terhadap Indonesia yang rawan bencana.

Direktur Tata Ruang, Pertanahan dan Penanggulangan Bencana Kementerian PPN/Bappenas Sumedi Andono Mulyo menjelaskan, ada lima sub tema yang menjadi fokus pembahasan, di antaranya yang pertama mengenai integrasi komitmen global dalam kebijakan di tingkat nasional dan lokal. 

Kedua, upaya pentahelix bagaimana kerja sama pemerintah, pemerintah daerah, dengan perguruan tinggi, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan media. Ketiga, keterlibatan semua pihak, sehingga memberikan perhatian terhadap kelompok rentan terutama perempuan, anak-anak, kelompok difabel, dan membuka kesempatan kepada kaum muda untuk terlibat di dalam pengurangan risiko bencana

Keempat, penguatan perencanaan dan penganggaran untuk pengurangan risiko bencana dengan strategi pendekatan pembiayaan secara terintegrasi dan juga dari segi perlindungan sosial adaptif untuk menampung berbagai kemungkinan di dalam pembiayaan. Serta, kelima, pengembangan inovasi dan teknologi.

“Berdasarkan lima sub tema tersebut, pemerintah Indonesia menyusun laporan dan kertas kerja berdasarkan tema yang dibahas yang menjadi pegangan setiap anggota delegasi dalam pembahasan, baik dalam bentuk Diskusi Tingkat Menteri, Dialog Tingkat Tinggi, Review Tengah Waktu dan diskusi tematik,” tutur Direktur Sumedi dalam konferensi pers di Ruang Konferensi Pers, Media Center GPDRR, dalam keterangan persnya.

Dalam berbagai diskusi dan dialog, lanjut Direktur Sumedi, Pemerintah Indonesia menyampaikan pesan utama tentang pentingnya kerja sama dan kolaborasi dalam pengembangan manajemen di bidang kebencanaan, terutama terkait dengan data, peta, informasi, dan pengetahuan.

Hal ini sejalan dengan kebijakan one data one map policy yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Selain itu, diperlukan manajemen kebencanaan dan manajemen pengetahuan kebencanaan yang didukung dengan digitalisasi informasi atau transformasi digital.

Di sisi lain, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah, Tertinggal, dan Transmigrasi juga merintis dengan SDGs Desa berupaya untuk pengurangan risiko bencana sebagai pengarusutamaan dan fasilitasi di tingkat desa. Untuk itu, Direktur Sumedi mengatakan pentingnya upaya kerja sama dan fasilitasi untuk peningkatan kapasitas pemerintah daerah. 

“Ini sangat penting supaya nanti di dalam perencanaan penganggaran di tingkat daerah itu betul-betul berbasis kepada pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Direktur Sumedi juga menjelaskan perlunya kerja sama antar perguruan tinggi dan lembaga riset, terutama dalam peningkatan pengembangan teknologi dan pelaksanaan riset kebencanaan, memfasilitasi dan pemberdayaan kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan dan kelompok difabel dan juga dukungan dari peran pemuda di dalam penanggulangan bencana. Selain itu, beliau juga menekankan mobilisasi sumber-sumber pendanaan terintegrasi dalam penanganan bencana. 

“Ini akan sangat penting supaya nanti terjadi pergeseran tidak hanya kepada spending tapi juga investasi,” ujar Direktur Sumedi.

Selain itu, fasilitas dan perluasan peran pelaku usaha dalam penanggulangan bencana tidak hanya pada saat terjadi bencana maupun pasca bencana. Akan tetapi, justru peran pelaku usaha menjadi sangat penting pada saat pra bencana di dalam perencanaan.

Selanjutnya Indonesia mempunyai harapan agar GPDRR ini dapat memperkuat dan memperluas kerja sama internasional yang lebih berkulitas dan menjadi masukan bagi Konferensi Tingkat Tinggi di G20 dengan menekankan pentingnya penguatan kerja sama internasional yang lebih adil dan nyata dalam penanganan pandemi dan pengurangan risiko bencana serta perubahan iklim.

Tidak hanya itu, kerja sama internasional juga diperlukan untuk penyediaan dukungan bagi pengembangan usaha kecil dan menengah, terutama di negara-negara berkembang yang rentan terhadap bencana dan pandemi dan memperluas akses terhadap informasi teknologi dan sumber-sumber pendanaan bagi negara-negara berkembang.

“Jadi intinya tim Delegasi Indonesia menekankan bahwa untuk mencapai resiliensi berkelanjutan diperlukan kolaborasi melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, pelaku usaha, perguruan tinggi ,dan segi organisasi masyarakat. Tidak kalah pentingnya adalah media, dengan kolaborasi itu maka akan lebih kuat di dalam mencapai resiliensi berkelanjutan,” kata  Direktur Sumedi.