3 Lukisan Terkenal Ini Punya Makna Menyeramkan di Baliknya

3 lukisan yang memiliki latar belakang menyeramkan
3 lukisan yang memiliki latar belakang menyeramkan
Sumber :

VIVA Lifestyle – Karya seni lukisan, biasanya menggambarkan apa yang dirasakan oleh sang seniman. Lukisan – lukisan indah oleh para pelukis terkenal, banyak dijual dengan harga yang fantastis. Lukisan – lukisan dengan latar belakang ceria, indah dan estetika tentu menjadi pilihan banyak orang.

Namun, tentu tak sedikkit pula seniman yang menorehkan lukisan dengan latarbelakang seperti kesedihan, ganggaun mental hingga kejadian yang miris dan menyeramkan. Seperti tiga lukisan di bawah ini, yang memiliiki latar belakang yang menyeramkan: 

Lukisan Vincent Van Gogh

Lukisan Vincent van Gogh setelah memotong telinganya sendiri

Lukisan Vincent van Gogh setelah memotong telinganya sendiri

Photo :
  • wikipedia

Lukisan pertama adalah lukisan milik Vincent Van Gogh, seniman luar biasa. Namun, selama hidupnya, seniman yang lahir pada 30 Maret 1858 di Belanda ini mengalami masalah finansial dan masalah kejiwaan. Saat muda, van Gogh bahkan sering kali menukar lukisannya untuk mendapat makanan atau untuk mendapat alat lukis. Ia mengalami depresi berat dan harus berada di rumah sakit jiwa untuk beberapa kali. 

Karya Van Gogh saat ini memang bernilai mahal dan karyanya dihormati di dunia seni. Namun, itu terjadi setelah kematiannya yang tragis. Salah satu lukisannya yang paling terkenal dan termahal bernama Autoportrait a l'oreille bandee atau Potret Diri dengan Perban di telinga. 

Sebelum dan di dalam lukisan tersebut, van Gogh memotong telinganya sendiri, lalu membungkusnya dalam koran, dan mengirimnya kepada seorang pelacur bernama Rachel. Setelah melakukan kejadian mengerikan itu, van Gogh kembali kerumahnya dan melukis potret dirinya sendiri dengan perban di telinganya. Hal ini tentu menggemparkan masyarakat Paris saat itu.

van Gogh pun kembali masuk ke pengawasan rumah sakit jiwa. Sebelum ia meninggal dengan tragis pada Minggu malam, 27 Juli 1890, saat ia menginap di sebuah penginapan. Ia diyakini bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. 

Lukisan Anak Menyusui Bapaknya 

Lukisan Roman Charity

Lukisan Roman Charity

Photo :
  • wikipedia

Lukisan kedua yang memiliki makna menyeramkan di baliknya bernama Cimon dan Pero. Nama lukisan itu adalah Roman Charity dan banyak versi lukisannya. Ada yang dilukis oleh Hendrick ter Brugghen (1623), Peter Paul Rubens (1612), dan banyak lainnya.

Lukisan tersebut mengisahkan seorang pria bernama Cimon yang divonis hukuman mati dengan dibuat kelaparan. Sang putri, Pero, lantas berani berbuat nekat untuk menolong ayahnya, yaitu dengan "memberi makan" ayahnya dengan asinya. 

Menurut situs The Metropolitan Museum of Art, kisah itu dicatat oleh sejarawan Romawi bernama Valerius Maximus. Menurut cerita, Pero memohon kepada pemerintah memperbolehkan dirinya mengunjungi ayahnya sampai ayahnya mati. Mereka memperbolehkan keinginannya tapi dia tidak bisa membawa apapun yang bisa dimakan bersamanya. Sehingga ia selalu dicek oleh para petugas penjara setiap kali ia mengunjungi ayahnya. 

Apa yang tidak diketahui para penjaga adalah Pero "memperpanjang" usia ayahnya dengan memberi Cimon makan melalui asinya. Penjaga curiga ketika Cimon masih tetap hidup setelah beberapa lama ia dihukum. Mereka akhirnya menangkap basah Pero menyusui Cimon dan kasus terhadapnya diajukan. Namun hal tersebut malah membuat lunak hati para pemerintah dan mereka akhirnya membebaskan Cimon.

Cerita ini juga diwujudkan dalam sebuah patung di atas Belfry of Ghent di Antwerp, di Belgia.

Lukisan The Scream

Lukisan The Scream

Lukisan The Scream

Photo :
  • wikipedia

Lukisan yang terakhir berjudul The Scream yang dilukis oleh Edvard Munch. The Scream adalah salah satu dari empat lukisan berseri Munch yang diberi judul Der Schrei der Natur (Teriakan Alam). Edvard Munch menyelesaikan "The Scream" pada 1893, beberapa bulan setelah menggambar sketsa di atas kanvas.

Adapun The Scream menggambarkan seseorang yang tercekam atau mengalami kecemasan, dengan latar belakang cakrawala yang berupa senja berwarna merah. Hal yang membuat agak seram, beberapa peneliti meyakini senja merah pada lukisan itu terlihat setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883.

Dalam sebuah catatan dalam buku hariannya, Munch mengaku mendapat inspirasi lukisan ini saat berjalan-jalan.

"Saya sedang berjalan di sebuah jalan kecil dengan dua orang teman – matahari sedang tenggelam – mendadak langit berubah menjadi merah darah – Saya berhenti, merasa lelah, dan bersandar di pagar – di atas fjord dan kota yang biru kehitaman tampak darah dan lidah-lidah api – teman-teman berjalan terus, dan saya berdiri di sana gemetar dan diliputi rasa cemas – dan saya merasakan jeritan yang tidak henti-hentinya melintas di alam".

Selain itu, yang membuat lukisan ini lebih seram, sang pelukis menorehkan tulisan kecil di bagian atas lukisan, bertuliskan "Hanya dapat dilukis oleh orang gila." 

Diduga, Munch menuliskan tulisan tersebut setelah pembicaraan tidak menyenangkan pada tahun 1895 ketika dia memamerkan lukisan itu untuk pertama kalinya di kota Kristiania, sekarang Oslo. Selama diskusi publik tentang karya itu, seorang mahasiswa kedokteran muda berspekulasi bahwa lukisan aneh itu menunjukkan bahwa Munch pasti sudah gila.

Siswa tersebut berpendapat bahwa Munch tidak normal, dan rentan terhadap halusinasi, bahkan menyebut karya itu akan dilupakan bersamanya.

Rupanya kritik tersebut justru mendorong Munch untuk menambahkan tulisan aneh yang menyebut bahwa lukisan itu memang hanya bisa dibuat oleh orang gila.

Diketahui, Munch memang memiliki penyakit mental, yang diturunkan oleh keluarganya.