Kasus Kekerasan Seksual Paling Banyak Terjadi di Perguruan Tinggi

Ilustrasi korban kekerasan seksual.
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Lifestyle – Kekerasan seksual merupakan masalah serius yang dapat terjadi pada siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Bahkan dalam lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu, masyarakat masih belum aman dari bahaya kekerasan seksual.

Ukir Prestasi saat Pendidikan di Dubai, 2 Anggota Polri Dapat Pin Emas dari Kapolri

Di Indonesia sendiri, kekerasan seksual telah menjadi kasus yang kerap terjadi di lingkungan pendidikan. Menurut catatan Komnas Perempuan selama periode 2017-2021, kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan paling banyak terjadi di perguruan tinggi.

Inspektur Jenderal Kemdikbud, Chatarina Muliana Girsang, mengungkapkan, kementerian bertanggung jawab atas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sehingga kerja kolaboratif mutlak dilakukan.

Peduli Pendidikan Majalengka, Eman Suherman: Penting Cetak Generasi yang Bermanfaat dan Tak Lemah

"Kerja kolaboratif ini harus melibatkan berbagai elemen, mulai dari perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga komunitas. Kementerian menyambut baik GSF (Gender Studies Forum) sebagai bagian dari upaya duduk bersama untuk mencari jalan terbaik menyelesaikan persoalan kekerasan seksual," ujarnya saat sesi diskusi 'Menginvestigasi Kekerasan Seksual di Pendidikan Tinggi di Indonesia: Interseksi dan Interjeksi', yang digelar GSF di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 

Ilustrasi kekerasan dan pelecehan seksual.

Photo :
  • Pexels/RODNAE Productions
Lewat Jalur Prestasi, Ada 110.088 Siswa yang Diterima PPDB Jakarta 2024

Berada dalam ruang diskusi yang sama, Komisioner Komnas Perempuan, Prof. Alimatul Qibtiyah, menjelaskan bahwa angka kekerasan seksual di Indonesia semakin meningkat setiap tahun, dan berbagai upaya secara regulatif sudah bergerak ke arah upaya pencegahan kekerasan seksual.

"Tantangan utamanya ada pada mental model, bahwa seprogresif apapun regulasi menjadi sulit dilaksanakan jika orang-orang yang mengimplementasikan di lapangan masih memahami kekerasan seksual sebagai hal yang biasa,” ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Dante Rigmalia, ketua Komnas Disabilitas, menambahkan salah satu tantangan utama dalam kekerasan seksual terletak pada sikap masyarakat dan aparat penegak hukum yang cenderung mengabaikan.

"Akibat kurangnya pengetahuan aparat, sistem peradilan pidana di Indonesia menjadi tidak terintegrasi dengan sistem pemulihan korban. Trauma dan rasa malu yang dialami penyandang disabilitas sebagai korban kekerasan seksual seringkali diabaikan. Pada akhirnya, korban dan keluarga merasa pesimis kasus tersebut bisa diselesaikan," bebernya. 

Ilustrasi korban kekerasan seksual.

Photo :
  • Istimewa

Direktur Eksekutif Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Tunggal Pawestri, yang juga hadir di acara itu turut menekankan bagaimana dukungan lembaganya dalam mendorong upaya baik dan intervensi dalam upaya pemberantasan kekerasan seksual.

"Kegiatan GSF ini menjadi sangat penting sebab menyediakan bahan dan amunisi untuk mendorong kebijakan yang responsif dan inklusif. Hal ini yang menjadi alasan mengapa Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial mendukung sepenuhnya program, diskusi, maupun diseminasi hasil dari GSF ini," kata Tunggal Pawestri.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya