Bolehkah Ibu Hamil Tidak Berpuasa? Begini Pandangan Islam

Ilustrasi hamil/ibu hamil.
Ilustrasi hamil/ibu hamil.
Sumber :
  • Freepik/user18526052

VIVA Lifestyle – Umat Muslim sudah mulai menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1444H. Menjalani ibadah puasa, tidak sedikit dari kita yang masih bertanya-tanya tentang puasa bagi kelompok tertentu salah satunya adalah ibu hamil.

Banyak pendapat menyebut bahwa ibu hamil boleh tidak berpuasa. Namun bagaimana pandangan Islam terkait ibu hamil dan puasa Ramadhan? Yuk, scroll untuk mengetahui jawabannya.

Melansir laman NU Online, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember, Ustadz M. Ali Zainal Abidin, menjelaskan bahwa perempuan yang sedang hamil memiliki ketentuan yang sama dengan orang yang sakit dalam hal boleh-tidaknya meninggalkan puasa. 

Tidak selamanya perempuan hamil wajib berpuasa dan juga tidak selamanya perempuan hamil boleh meninggalkan kewajiban puasanya. Hal ini tergantung pada kondisi kesehatan dari perempuan tersebut dan dugaan kuat akan dampak buruk yang bakal terjadi.

Ibu hamil secara umum memiliki tiga keadaan yang memiliki konsekuensi hukum yang berbeda terkait wajib-tidaknya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tiga keadaan ini secara ringkas dijelaskan dalam kitab Nihayah az-Zain Syarh Qurratul ‘Ain:  
  
“Bagi orang sakit  terdapat tiga keadaan. Pertama, ketika ia menduga akan terjadi bahaya pada dirinya yang sampai memperbolehkan tayamum, maka makruh baginya berpuasa dan boleh baginya untuk tidak berpuasa. Kedua, ketika ia yakin atau memiliki dugaan kuat (dhann) akan terjadi bahaya atau uzur yang mengenainya akan berakibat pada hilangnya nyawa atau hilangnya fungsi tubuh, maka haram baginya berpuasa dan wajib untuk tidak berpuasa. Ketiga, ketika rasa sakit hanya ringan, sekiranya ia tak menduga akan terjadi bahaya yang sampai memperbolehkan tayamum, maka haram baginya tidak berpuasa dan wajib untuk tetap berpuasa selama tidak khawatir sakitnya bertambah parah.”

Sama halnya dengan orang yang sakit adalah petani, nelayan, buruh, perempuan hamil dan menyusui, meskipun kehamilan hasil dari zina atau wathi syubhat” (Syekh Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain Syarh Qurratul ‘Ain, juz 1, hal. 367)   

Halaman Selanjutnya
img_title