Ancaman Gelombang ke-3 COVID-19, Akankah Lebih Parah?

Ilustrasi virus corona/COVID-19.
Ilustrasi virus corona/COVID-19.
Sumber :
  • Freepik/freepik

“Di mana negara tersebut sudah memiliki cakupan vaksinasi yang tinggi, serta memiliki tingkat prokes yang sudah baik seperti di Inggris, Amerika mereka prokesnya sudah lebih relaksasi karena orang sudah tidak pakai masker kalau melakukan aktivitas di tempat publik atau di ruang terbuka kemudian jaga jarak tidak ada jadi itu sementara cakupan vaksinasinya sudah hampir lebih dari 70 persen dari sasaran. Tapi begitu ada varian delta kasusnya kembali meningkat mereka struggling meski kasus kematian rendah tetapi artinya kasus ini kondisi ini contoh kasus gelombang ketiga ini memungkinkan terjadi di negara lain,” kata dia.

Lebih lanjut, kata Nadia, setiap ada peningkatan pergerakan atau mobilitas itu  selalu terjadi peningkatan kasus COVID-19. Karena biasanya relaksasi yang terjadi karena kasus turun, relaksasi aktivitas-aktivitas sosial dan masyarakat, termasuk aktivitas ibadah, aktivitas ekonomi dan biasanya kondisi aman seperti ini protocol Kesehatan di masyarakat cenderung menjadi kendor, dan tidak lagi disiplin protokol kesehatan.

“3 hal tersebut ditambah dengan varian delta ternyata varian yang paling banyak di negara kita, 90-98 persen adalah varian delta. Ini menjadi concern kita, setiap saat varian delta yang sifatnya lebih ganas, lebih infeksius, masih merupakan varian dominan dan ini harus membuat kita waspada di tengah aktivitas kita meningkat, prokes kita yang kadang-kadang kendor akan menyebabkan perluasan pada penyebaran virus, sehingga potensi gelombang ketiga tadi adalah satu keniscayaan akan terjadi,” kata Nadia.

Apakah gelombang ketiga COVID-19 akan lebih parah dibandingkan dengan gelombang pertama dan kedua?

Ilustrasi virus corona.

Ilustrasi virus corona.

Photo :
  • Freepik/pikisuperstar

Ancaman gelombang ketiga ini tidak dipungkiri menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Hal ini mengacu pada kasus peningkatan kasus yang cukup signifikan di Indonesia terlebih pada pertengahan tahun yakni Juli tahun ini. Dimana kasus konfirmasi positif COVID-19 harian bisa menyentuh angka 54 hingga 55 ribu per harinya. Lantas bagaimana dengan potensi gelombang ketiga?

Terkait hal ini, Nadia menjelaskan kemungkinan akan lebih tinggi dibanding dengan gelombang pertama. Hal ini lantaran adanya mutasi virus varian delta.